TARAKAN - Perolehan penerimaan di Badan Amil Zakat atau Baznas Tarakan pada 2022 mencapai Rp 8,7 miliar. Jumlah tersebut sudah melebihi target yang ditentukan.

Kepala Pelaksana Baznas Tarakan Syamsi Sarman mengatakan, adapun zakat itu berasal dari zakat mal, fitrah, profesi dan lainnya dari masyarakat. Sebenarnya Baznas Tarakan pernah menargetkan mencapai Rp 9,7 miliar.

Laporan tahun 2022, dari total penerimaan zakat terkumpul Rp 8,7 miliar. Dengan rincian, yakni zakat Rp 5,1 miliar, infaq dan sedekah Rp 3,1 miliar dan hibah APBD Rp 500 juta. Baik di APBD murni Rp 250 juta dan APBD Perubahan Rp 250 juta.

“Kementerian Agama juga memberikan hibah operasional Rp 6 juta. Jadi total yang kami kumpulkan tahun lalu Rp 8,7 miliar. Sebetulnya tidak banyak peningkatan dari 2021 yang terkumpul Rp 8,4 miliar. Ada kenaikan Rp 300-an juta. Alhamdulillah semangat orang berzakat masih tetap bagus,” ujarnya, Rabu (18/1).

Untuk di tahun 2023, pihaknya kembali menargetkan bisa terkumpul Rp 8,7 miliar. Namun pihaknya dibebankan target prestasi. “Kalau kami bisa tembus angka Rp 9 miliar, itu namanya target prestasi. Mudahan Rp 300 juta bisa terkejar,” harapnya.

Ia mengakui, sempat terjadi penurunan kategori zakat namun infaq dan sedakah mengalami kenaikan penerimaan. Dengan isu resesi dan guncangan ekonomi, kata Syamsi, secara nominal tidak berani mengubah target.

Namun strategi akan dilakukan pendekatan keagamaan, mencoba dakwah dengan zakat bisa menyelamatkan ekonomi. “Pada saat Covid-19 orang banyak berinfaq. Baik berupa sembako, APD (Alat Pelindung Diri) dan masker. Itu kita hitung semua, jadi zakatnya menurun. Tetapi semangat orang berbagi tetap meningkat. Mudah-mudahan bisa mendorong orang untuk berzakat walaupun resesi,” jelasnya.

Pihaknya berprinsip tidak ada mustahik datang ke kantor tidak terlayani dengan baik. Jika sudah dilakukan survei, pihaknya wajib memberikan sembako maupun biaya berobat kepada mustahik yang sudah terdaftar.

Ketua Baznas Tarakan Zainuddin Dalilah menyebut, ada 16.000 mustahik yang terdaftar dan didominasi kelompok fakir dan miskin. Di tahun 2023, pihaknya menargetkan menuntaskan angka mustahik sesuai instruksi Presiden dan Gubernur.

“Pada 2024 angka kemiskinan ekstrem harus nol. Gemerlapnya Tarakan masuk dalam 10 per kapita tertinggi, tapi masih ada orang yang perlu ditolong. Baznas ikut berperan. Jika ada hal kurang pas perlu diklarifikasi ke Kantor Baznas Tarakan. Mudahan 2023 ini bisa tercapai semua apa yang ditargetkan,” singkatnya. (sas/uno)