TARAKAN -Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Kaltara mengklaim inflasi di Kaltara masih terkendali, jika dibandingkan provinsi lain. Tahun 2023, inflasi di Kaltara ditarget mencapai 3 persen +-1 sesuai arahan Gubernur Bank Indonesia.

“Proyeksi pertumbuhan ekonomi Kaltara di 2023 di 4,18 sampai 4,98 persen. Kami optimis pertumbuhan ekonomi Kaltara semakin membaik. Baik itu ketersediaan barang dan jasa,” terang Kepala Tim Implementasi Sistem Pembayaran (SP) Pengolahan Uang Rupiah (PUR) dan Manajemen Intern (MI) KPwBI Kaltara Dodi Hermawan di Tarakan, Rabu (30/11).

Soal ancaman resesi global di tahun 2023, lanjut Dodi, masih menunggu progres pembangunan Kawasan Industri Hijau Indonesia (KIHI) di Kaltara. Namun ia mengakui, resesi global di tahun 2023 tidaklah mudah. Namun bukan berarti tidak ada peluang.

“Peluang kita banyak. KIHI, hilirisasi batu bara, CPO, pertanian dan perikanan. Selama inikan belum optimal. Karena produk perikanan kita hanya frozen food saja, bukan diolah. Itu masih sangat terbuka lebar,” jelasnya.

Menurutnya, resesi global bukan menjadi ancaman berarti. Sebab, hanya di Kaltara bisa menyiapkan lahan sekitar 30 ribu hektare untuk menyiapkan KIHI serta sumber daya alam.

“Ketika di luar mempertahankan proteksionisme pangan, itu menjadi tantangan tersendiri. Tapi jangan jadikan stigma negatif. Kita hadapi itu jadi peluang,” tegasnya.

Tak hanya itu, produk batik Kaltara mulai kembali diperkenalkan dan membuka pemasaran di Indonesia. Sebab nilai tambah maupun kreatif bagi produk batik sangat tinggi. Selain itu, di tahun 2023 ada juga Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (Gernas BBI). Sehingga nantinya bisa memanfaatkan peluang di tengah resesi global.

“Biaya hilirisasi butuh modal besar. Agar investor dari luar bisa tertarik. Sekarang sudah tertarik, karena ada KIHI. Jika kondisi Kaltara aman dan damai, maka investor semakin tertarik,” ungkapnya.

Menurut Dodi, di Kaltara perlu menciptakan distribusi logistik yang lebih efisien. Salah satu contohnya distribusi produk UMKM di Krayan, Nunukan untuk ke Tarakan sangat terbatas. Meski ada bahan dasar yang masih diimpor dari Pulau Jawa. (sas/uno)