TARAKAN -Harga udang di pasaran yang terlalu rendah, dikeluhkan petani tambak di Tarakan. Padahal harga udang ini pernah berada pada puncak harga tertinggi sekitar awal tahun 2.000-an.

Salah seorang petambak, Lukman mengaku, harga udang terus mengalami penurunan. Bahkan di setiap periodik panen, saat dijual harga udang semakin turun. Dari harga tertingginya itu dibandingkan harga saat ini sangat luar biasa perbedaannya.

“Anggaplah turun di setiap air tidak signifikan. Tapi, kalau diakumulasikan sekarang ini ibaratnya sudah tidak ada harga. Berbanding dengan apa yang kami perlukan, untuk biaya operasional. Mulai dari biaya bibit, bahan bakar, pupuk, racun, kapur, sembako dan transportasi terus naik. Jadi sudah tidak berimbang,” jelasnya, Kamis (22/9).

Ia tidak mengetahui faktor turunnya harga udang. Padahal keluhan sudah disampaikan secara demo dan mediasi kepada pemerintah maupun perwakilan di eksekutif dan legislatif. Ia menganggap, dua lembaga itu sudah tidak mau tahu atau mencarikan solusi terkait harga udang.

“Kami sudah lelah. Ibaratnya hanya menerima apa yang ada. Mau berteriak, perwakilan kami kerjanya nol besar. Padahal belum pernah ada Wali Kota atau wakil rakyat yang bisa dua periode saat harga udang anjlok. Pemilih di Tarakan kurang lebih 90 persen nelayan,” keluhnya.

Harga udang berdasarkan size, paling besar size 20 komisi Rp 55 ribu per kilogram dengan tabel Rp 80 ribu per kilogram. Diakumulasikan size 20 harga Rp 135 ribu per kilogram. Sedangkan di dunia pertambakan, size 20 baru bisa didapatkan dalam kurun waktu 6 bulan. Jumlah panen pun tidak bisa ditentukan banyak dan tidaknya. Karena banyaknya faktor selama 6 bulan tersebut.

Dibandingkan harga dulu, bisa sampai 200 persen menurunnya. “Bagaimana sih pabrik itu menentukan harga udang, kami tidak tahu. Kalau barang komoditi di muka bumi ini kan kita tahu, kenaikan karena ada sebab. Misalnya karena harga minyak dunia naik atau terjadi krisisi ekonomi dengan melambungnya dolar sampai terpuruknya rupiah,” bebernya.

Saat di awal harga udang turun, alasan yang disampaikan karena harga dolar turun. Udang merupakan komoditas ekspor dan dibeli dengan dolar. Namun, saat harga dolar naik tinggi, harga udang malah semakin turun. Bahkan komoditi laut yang lain, mulai dari kepiting, ikan sampai udang galah mengalami kenaikan.

Ia pun meminta penjelasan kepada pemerintah, dalam regulasi penentuan harga udang. Apakah berdasarkan harga di luar atau hanya ketentuan dari kesepakatan pabrik dan tidak melibatkan nelayan. Semua cool storage di Tarakan menetapkan harga sama.

Sementara penjualan dijual ke pabrik sebagai lemparan terakhir di cool strorage untuk mengekspor. Selain pabrik, ada juga pos penampung yang biasanya mengambil dari nelayan, namun muaranya tetap ke pabrik.

“Karena pabrik lah yang punya wewenang mengekspor keluar. Harga udang ditetapkan cool storage. Mereka menginformasikan kepada pos dan nelayan itu pada saat keputusan rapat antar pabrik di Tarakan. Artinya, penentuan harga selesai dan harga fiks sudah didapat,” ujarnya.

Sebagai nelayan, pemikirannya pasti turunnya harga udang ini karena ada monopoli. Merujuk pada situasi ekonomi yang secara global, saat semua harga komoditi naik. Menurunnya harga udang ini dianggapnya tidak masuk akal.

Lukman yang juga memiliki pos pembelian udang mengaku, tidak bisa melakukan negosiasi terkait harga udang. Ia mengungkapkan, penentuan harga hanya berdasarkan rapat para pemilik cool storage sudah terjadi sejak dulu.

“Setahu kami, dulunya penentuan harga udang selalu berkolerasi dengan situasi dan kondisi perekonomian secara global. Harga komoditi naik, harga udang naik atau stabil. Tapi, sekarang malah terus turun,” kesalnya.

Menanggapi ini, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kaltara Rukhi Syayahdin mengaku, akan mengumpulkan cool storage, petani tambak serta pihak perusahaan terkait koordinasi harga udang. “Tunggu dulu, kami masih koordinasi dengan semua stakeholder. Termasuk ke petani tambak,” singkatnya. (sas/uno)