TARAKAN–Menekan harga pasar, Perusahaan Umum (Perum) Badan Urusan Logistik (Bulog) Sub-Divre Tarakan menggelar pasar murah di 20 kelurahan secara bergantian. Dimulai sejak 19 September hingga 10 Oktober, teknisnya akan dilakukan sehari dua kelurahan, dengan dua tim selama dua hari.

Kepala Perum Bulog Sub-Divre Tarakan Apriansyah mengatakan, produk yang dijual mulai minyak goreng curah yang sudah dikemas Minyak Kita kemasan 1 liter, Gula Manis Kita dengan kemasan 1 kilogram, beras jenis premium dan medium masing-masing ukuran 5 kilogram. Persyaratan hanya menunjukkan scan QR code aplikasi PeduliLindungi namun jika tidak ada, bisa menunjukkan KTP. "NIK itu yang akan kami input di aplikasi. Komoditas paling banyak terjual dan dicari itu minyak goreng. Penjualan minyak goreng juga ada aplikasi dari Kementerian Perindustrian, harus melalui Simirah (Sistem Informasi Minyak Goreng Curah)," jelasnya, Rabu (21/9).

Dalam pembelian komoditas seperti gula pasir, beras medium dan premium, tidak ada batasan. Tujuan pasar murah kepada masyarakat dan UMKM tidak melihat klasifikasi. Ketersediaan di Bulog juga sangat banyak, sehingga bisa menjadikan stabilisasi harga di Tarakan. "Salah satu tujuan pasar murah untuk stabilisasi harga, terutama minyak goreng. Sejak langka dulu itu, harganya bisa sampai Rp 25 ribuan. Sampai sekarang minyak goreng juga belum turun ke harga normal, harusnya di kisaran harga Rp 13–14 ribu," sebutnya.

Pasar murah pada hari pertama, Bulog menyasar wilayah Kelurahan Juata Laut dan Juata Permai, dengan penjualan sangat baik dan sesuai dengan target. Antusias masyarakat juga cukup tinggi, terutama para pelaku UMKM yang menggunakan minyak goreng sebagai bahan pokok. "Minyak goreng stok kami ada 20 ribu liter. Kami targetkan satu kelurahan itu paling banyak 1.000 liter. Dua hari pertama itu, terjual 1.980 liter yang terjual di dua kelurahan. Cukup tinggi, memang minyak goreng paling banyak. Komoditas utama, baru selanjutnya gula dan beras," ujarnya.

Saat ini harga minyak goreng cukup tinggi di pasaran. Mesti ketersediaan di setiap supermarket dan pasar tradisional dengan bermacam variasi. Namun, harganya masih di kisaran di atas Rp 15 ribu per kemasan 900 mililiter atau 1 liter.

Sistem antrean di pasar murah, dibantu pihak Kelurahan dengan koordinasi melalui Satgas Pangan. Masyarakat membeli di dalam ruangan yang difasilitasi pihak kelurahan, sehingga tidak antre berdiri dan tidak menumpuk. (kpg/sas/dra/k8)