TANJUNG SELOR – Gula asal Malaysia masih ditemukan di pasaran, menjadi konsumsi sehari-hari masyarakat. Mengingat, gula tersebut harganya cukup terjangkau untuk masyarakat menengah ke bawah.

Untuk gula produk Indonesia, dijual seharga Rp 17 ribu-Rp 18 ribu per kilogram (kg). Sementara gula asal Malaysia bermerek Prai dijual seharga Rp 16 ribu per kg.

“Kalau gula biasa itu dibungkus tidak sampai sekilo. Harganya Rp 17 ribu sampai Rp 18 ribu. Kami sebagai pembeli, tentu carinya yang murah dan berkualitas,” ucap Devi salah seorang pembeli.

Menurut dia, jika ada larangan terhadap pembelian maupun penjualan gula Malaysia, seharusnya ada solusi. Misalnya, harga gula Indonesia bisa terjangkau dan takaran tidak dikurangi.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Disperindagkop dan UKM) Kaltara Hasriyani menjelaskan, peredaran gula Malaysia sudah ditekan. Bahkan pihaknya tergabung dalam tim Satgas Pangan.

“Kita sebelumnya sudah banyak menarik peredaran gula Malaysia dan dilakukan pemusnahan,” ungkapnya.

Menurutnya, perlu edukasi agar masyarakat, baik pedagang maupun pembeli memahami pentingnya menggunakan produk dalam negeri. Termasuk dibutuhkan kesadaran masyarakat, agar peredaran gula Malaysia bisa ditekan.

Hasriyani menegaskan, dengan menarik peredaran gula Malaysia dan dimusnahkan, untuk memberi efek jera. Namun, tindakan tersebut belum efektif dengan masih banyaknya peredaran gula Malaysia.

“Dengan ditemukannya gula Malaysia di pasaran, harus dikonsultasi dan dikomunikasikan dengan tim. Melihat kondisi seperti ini, kita tak bisa langsung melakukan penyitaan,” tuturnya. (fai/uno)