TARAKAN -Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Kaltara menggelar pelatihan membatik bagi pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Tarakan. Dengan bekerjasama Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Tarakan, pelatihan membatik ini bisa menumbuhkan pasar batik di Kaltara.

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kaltara Bambang Irwanto mengungkapkan, secara rutin sudah melaksanakan pelatihan dari tahun 2020 kepada seluruh pembatik di Kaltara. Namun kondisi awal pandemi Covid-19, sehingga pelatihan dilaksanakan online.

Targetnya saat itu, diharapkan pengrajin bisa belajar menuangkan ide dan warna yang bisa diterima kalangan tertentu.

“Batik Kaltara dan Tarakan sudah memiliki pasarnya. Dan orang Indonesia suka warna alam yang soft, sehingga ada pelatih didatangkan. Agar bisa tembus pasar domestik dan melengkapi target pembatik Tarakan yang sudah dimiliki,” ujarnya, Selasa (20/9).

Bahkan di tahun 2021 lalu, sudah ada gelaran kreatif UMKM Karya Batik Paguntaka dan ada memperkenalkan sesingal untuk dipasarkan secara online. Di tahun 2020 lalu, sempat ada kajian motif asli dan dari Kaltara.

Namun motif tersebut masih akan dilengkapi dan akan disampaikan ke Pemprov Kaltara. “Kami menyeleksi calon pembatik di Tarakan dan sudah terpilih 10 orang. Hari ini (kemarin, Red) dilanjutkan belajar dan menuangkan ide kreativitas dengan pewarnaan soft,” ujarnya.

Pantauan KPwBI Kaltara terhadap produksi batik saat ini, masih membutuhkan tenaga entrepreneur pembatik untuk memenuhi permintaan masyarakat. Pihaknya juga menargetkan, seragam batik yang digunakan anak saat di sekolah. Seperti Peraturan Gubernur (Pergub) terkait kewajiban memakai seragam batik dan aksesoris di lingkungan ASN.

“Ke depan ada batik bagi anak sekolah. Jika tak disanggupi pembatik Tarakan, khawatir dimanfaatkan pembatik dari luar,” tegasnya.

Diharapkan permintaan batik bagi masyarakat Kaltara, bisa dipenuhi oleh pembatik asli Kaltara dan Tarakan. Soal harga, tentunya mengalami perbedaan. Sebab harga bahan baku yang dipesan dari luar Kaltara.

“Kami datangkan pakar, agar nanti pembatik bisa belajar. Diajarkan trik and tips menyiasati penentuan harga. Lebih diterima dan ada titik temu penjual pembatik dengan masyarakat. Kalau bisa tingkatkan produksi, saat ini mungkin ada komponen dibeli dari luar Kaltara,” ungkapnya.

Di sisi lain batik memiliki daya saing tinggi. Batik premium akan diupayakan dan bisa diterima di pasar internasional. Namun untuk pelatihan ini, BI tidak bisa memberikan permodalan secara langsung. Karena pihaknya bukan pemberian kredit perseorangan dan kelompok.

“Tidak hanya masyarakat kita, tapi bisa dinikmati masyarakat internasional. Termasuk memberikan kesejahteraan kepada pembatik dengan harga pantas. Kami yakni di pembatik punyak modal dasar cukup baik. Hanya tinggal memoles, agar jadi produk lebih baik,” harapnya. (sas/uno)