TANJUNG SELOR –Komisi II DPRD Bulungan lakukan inspeksi mendadak (Sidak), pada Kamis (1/9) pekan lalu, di Pasar Induk Tanjung Selor. Terdapat hal yang perlu menjadi pembahasan bersama dengan Pemkab Bulungan.

Soal ruko yang sudah dibangun, tapi tidak representatif menuai sorotan DPRD Bulungan. Termasuk pada ruko yang dijadikan tempat pemotongan unggas.

Wakil Bupati Bulungan Ingkong Ala mengatakan, akan tindaklanjuti yang menjadi masukan dewan. Termasuk tempat pemotongan unggas, yang rencananya akan dievaluasi.

Kata Wabup, hal ini sudah ditekankan untuk pemotongan unggas dilakukan di luar kawasan pasar. Ketika masuk pada pusat penjualan, dipastikan ayamnya dalam kondisi beku.

“Jangan menjual ayam dalam kondisi hidup di Pasar Induk,” tegas Wabup, Kamis (8/9).

Pasalnya, menurut Ingkong, adanya keluhan masyarakat terhadap aroma yang tidak sedap diduga dari proses pemotongan unggas. Secara langsung, ini tentunya sangat mengganggu para pengunjung pasar. Terhadap usulan tersebut akan dievaluasi lebih dulu oleh pemerintah daerah.

Rencananya, lokasi pemotongan unggas bakal digabungkan dengan tempat pemotongan hewan yang berlokasi di Sabanar, Tanjung Selor.

Ingkong mengimbau kepada pedagang, agar tidak membawa unggas dalam kondisi hidup untuk diperjualbelikan. Terpisah, Kepala Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Diskoprindag) Bulungan Zakaria menambahkan, berkaitan masukan dan kritikan DPRD menjadi perhatian untuk ditindaklanjuti.

“Waktu hearing dengan DPRD, hal itu menjadi masukan. Kami masih koordinasi dengan UPTD pasar, untuk memberikan edukasi dan sosialisasi kepada pedagang terlebih dahulu,” tuturnya.

Untuk lokasi pemotongan unggas, pihaknya sedang dilakukan pemetaan. Termasuk pertimbangan jika rencananya digabungkan di lokasi pemotongan hewan di Sabanar.

“Nanti kita akan pertimbangkan dengan melibatkan unsur terkait. Supaya ketika kebijakan itu diterapkan, tidak menimbulkan kontroversi di lapangan,” ujarnya. (*/mts/uno)