TARAKAN – Sejumlah instansi tergabung dalam tugas perlindungan anak. Seperti Dinas Satpol PP dan Pemadam Kebakaran, dalam hal penertiban eksploitasi anak, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) khusus perlindungan dan Dinas Sosial, memberikan pendampingan terhadap anak. 

Kepala DP3A Tarakan Mariyam mengatakan, harus memastikan dan melihat sejauh mana anak-anak yang dilaporkan pernah di eksploitasi ini, bersekolah atau tidak. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) turut dilibatkan dalam hal tersebut. 

“Kalau Satpol PP memang ada Perdar (Peraturan Daerah) tentang Keamanan dan Ketertiban Kota. Jadi menggiring anak-anak itu ke perlindungan anak,” tegasnya, Selasa (25/1).

Setelah dari Satpol PP, selanjutnya DP3A akan mempersiapkan pernyataan orang tua. Dalam surat pernyataan disebutkan, ada Undang-Undang terkait perlindungan anak. Yaitu anak yang masih dalam asuhan orang tua atau wali, perlu mendapatkan perlindungan. 

“Perlindungan dari eksploitasi seksual, eksploitasi perekonomian maupun eksploitasi dari gangguan. Jadi, anak berjualan ini kalau kita lihat memang di eksploitasi ekonomi dengan disuruh berjualan,” jelasnya.

Sementara, anak-anak yang berjualan di pinggir jalan yang kerap dijumpai di Tarakan, memiliki risiko sangat tinggi. Biasanya, anak-anak ini berjualan di jalan protokol, pinggir toko, lampu merah hingga keluar masuk rumah dan kafe maupun kantor. Tidak hanya risiko terjadi kecelakaan. Tetapi juga berisiko terjadi bullying maupun mental dan psikis terhadap anak hingga risiko terjadi seksual. 

Menurutnya, semua risiko dari eksploitasi ini agar bisa dihindari. “Dalam pernyataan, orang tua bersedia menandatangani. Tapi, memang berjalannya waktu ada orang tua yang setuju dan tidak setuju,” ungkapnya.

Beberapa alasan orang tua tidak setuju anaknya tidak berjualan. Biasanya ada hal yang menguntungkan bagi orang tua, terutama melihat dari penghasilan yang diterima anak. Bahkan, ia mengungkapkan sempat terjadi perdebatan antara suami istri, yang salah satunya menyetujui anak tidak lagi berjualan di pinggir jalan. 

Terlebih lagi, jika satu orang tua menyuruh dua sampai tiga anaknya berjualan. Minimal bisa mendapatkan uang hingga Rp 200 ribu sehari. Dalam penertiban belum lama ini, pihaknya mendapati ada uang di dalam tas anak tersebut. Sementara barang yang dijual masih banyak. 

Ternyata lebih banyak orang memberikan uang karena belas kasihan, meski tidak membeli. Tapi, orang tidak tahu risiko anak. Padahal memang, kalau tidak berjualan, penghasilan mereka sudah tidak ada. Berarti terbukti, selama ini orang tua yang menyuruh anaknya berjualan. Untuk kehidupan mereka sehari-hari. 

Ia memastikan akan menggiring orang tua yang tidak setuju ini ke ranah hukum. Dalam Undang-Undang sudah dipastikan, pelaku eksploitasi anak. Bahkan meski orang tuanya sendiri terancam hukuman kurungan badan maupun denda uang hingga ratusan juta. “Kami berikan dulu peringatan pertama, terus kedua. Kalau sampai dua kali tidak diindahkan, akan kami bawa ke ranah hukum,” tegasnya. (sas/uno)