TARAKAN – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kaltara, menyesalkan adanya oknum guru ngaji berinisial AR (27) di Kelurahan Selumit Pantai, Tarakan Tengah, melakukan perbuatan tidak terpuji dengan mencabuli 5 anak di bawah umur, Desember lalu.

"Ini perbuatan oknum. Saya kurang srek ketika media tidak menyebut oknum," ujar Wakil Ketua MUI Kaltara, Syamsi Sarman, Sabtu (23/1).

Menurutnya, seorang oknum guru ngaji juga tidak lepas dari kesalahan. Untuk itu, pihaknya sudah melarang guru ngaji pria untuk mengajar santri wanita. Terlebih santri wanita di atas umur 12 tahun. Jika tidak, harus diberikan jarak mengajar antara guru ngaji pria dan santri wanita.

"Yang paling bagus, laki-laki ngajar laki-laki. Perempuan ngajar perempuan. Kecuali sudah tidak ada, barulah laki-laki ngajar perempuan. Tapi ada batasannya. Saya kira Islam sudah mengatur itu," jelasnya.

Selain itu, santri perempuan diwajibkan juga menggunakan hijab dan tidak diperbolehkan mengajar di rumah. Melainkan harus mengajar di ruang terbuka atau masjid. Peran orangtua juga diharap bisa mengawasi anaknya saat mengaji, sesuai dengan syariat Islam.

Khusus guru ngaji, lanjut Syamsi, berada di bawah koordinasi Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI). Sekaligus memberikan sertifikasi dan seleksi untuk guru ngaji. Namun bagi guru ngaji yang di desa, biasanya diawasi oleh ketua RT setempat. "Kalau guru ngaji di masjid, di bawah naungan BKPRMI," ungkapnya.

Pria yang juga menjabat sebagai Dewan Penasihat BKPRMI Kaltara, rencananya akan memberikan masukan sesuai syariat Islam. Yakni memberi batasan antara laki-laki dan perempuan. Untuk itu, pihaknya berharap pada orangtua untuk tidak takut menyuruh anaknya mengaji bersama guru ngaji. Terutama belajar mengaji di masjid yang sudah terdaftar di pemerintah. Yakni Taman Pendidikan Alquran (TPA). Untuk di desa, disarankan mengaji pada guru yang sudah dikenal.

"Di Tarakan ini ribuan guru ngaji. Jadi satu pelaku itu, jangan dianggap kalau ribuan guru ngaji jelek semua. Orangtua juga tidak perlu ketakutan secara berlebihan. Untuk di pesantren, insyaallah masih banyak yang aman," harapnya. (sas/usi)