TANJUNG SELOR – Kabupaten Bulungan telah melaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM), setelah kasus Covid-19 mulai melandai. Namun, sebagai bentuk antisipasi maka dilakukan surveilans PTM. 

Alhasil, ditemukan ada 15 pelajar yang terpapar Covid-19. Terdiri dari 12 pelajar dan 2 guru yang terpapar Covid-19 di Kecamatan Tanjung Palas Tengah dan 3 pelajar di Kecamatan Tanjung Palas.

Menurut Kepala Bidang Pencegahan, Penanggulangan Penyakit (P2P) Dinkes Bulungan dr Velix Toding Sima, surveilans PTM rutin dilakukan karena sesuai instruksi dari Pemerintah Pusat. Apabila sudah dilakukan PTM, maka diminta untuk mengambil sampel.  

“Adanya temuan kasus pelajar yang terpapar, maka kita lakukan tracing contact (melacak kontak),” ujar dr Velix, kemarin (20/1). Dengan adanya temuan kasus ini, tentu akan dievaluasi proses PTM. Namun, hal itu menjadi kewenangan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Bulungan. Dengan melibatkan Dinas Kesehatan (Dinkes) Bulungan. 

“Tugas kami melakukan surveilans PTM. Hasil dari itulah kita periksa. Bila ada temuan pelajar yang positif, maka dilakukan tracing. Tetap berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan,” tuturnya. 

Diakui dr Velix, surveilans PTM sudah dilakukan beberapa hari lalu. Dalam pengambilan sampel terhadap pelajar, menyesuaikan dengan jumlah murid di tiap sekolah yang lakukan PTM. Sementara proses vaksinasi terhadap anak, lanjut dr Velix, masih terus dilakukan. 

Bahkan, pelajar yang terpapar tersebut pun sudah diberikan vaksin. Dijelaskan dr Velix, meski telah divaksin bukan berarti tidak bisa terkena Covid-19. Bisa saja virus tersebut menyerang pelajar, apabila daya tahan tubuh lemah. Secara umum, CT value (cycle threshold/nilai pemeriksaan) pelajar yang terpapar Covid-19 ini di bawah 30. “Kita sempat usulkan agar dilakukan uji varian. Akan tetapi, CT value di bawah 30. Jadi, tidak memenuhi syarat,” ujarnya. 

Adanya pelajar terpapar Covid-19 pun dibenarkan Kepala Disdikbud Bulungan Suparmin Seto. Dia mengatakan, terhadap sekolah yang pelajarnya terpapar maka akan diliburkan sementara. Pasalnya, Disdikbud tetap berpedoman pada SKB empat menteri. Apabila ditemukan kasus terkonfirmasi positif Covid-19, maka proses pembelajaran dengan belajar dari rumah (BDR). 

“Dengan pertimbangan teknis oleh Satgas, sekolah dan puskesmas setempat. Sekolah yang diliburkan selama 5 hari, dengan melihat jumlah persentase yang terpapar. Sesuai SKB empat menteri,” terang Suparmin saat dikonfirmasi terpisah. 

Secara teknis, lanjut Suparmin, Satgas setempat dengan melibatkan tenaga kesehatan untuk memastikan pelajar yang terpapar. Meskipun ada temuan kasus pelajar terpapar, hal itu tidak berpengaruh terhadap sekolah lainnya. 

“Prokes (Protokol Kesehatan) tetap harus diperketat dan dievaluasi. Begitu juga sekolah yang terpapar agar dievaluasi,” tutupnya. (uno2)