TARAKAN – Rempah-rempah asal Kaltara sudah mulai merambah ke pasar internasional. Beberapa sampel seperti pala, lada, bubuk kunyit, bubuk lengkuas sudah dikirim ke Amerika Serikat tahun lalu. 

Dari sample yang dikirim, khusus lada berasal dari Mangkupadi, Kabupaten Bulungan dan sisanya dikirim dari Berau, Kalimantan Timur (Kaltim). Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas II Tarakan Ahmad Alfaraby menjelaskan, sampel yang dikirim ke Amerika Serikat ini untuk membuka peluang ekspor. Terlebih lagi, di Berau saat ini sedang mencoba salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) mengembangkan produk rempah tersebut. 

“Meskipun saat ini memang luas lahannya masih sedikit. Karena, hanya skala kecil saja. Sedangkan untuk lada dari Mangkupadi, Bulungan bukan pengiriman pertama,” jelasnya, Senin (17/1).

Sebelumnya, lada dari Mangkupadi sudah sering dikirimkan ke Tiongkok dan Vietnam. Ekspor bubuk rempah ini berpotensi dikembangkan lebih besar lagi. Hanya saja, saat ini belum bisa dikembangkan untuk ekspor. Karena untuk mencukupi kebutuhan di wilayah Kaltara masih kurang. Sehingga, rempah tersebut sebagian besar ada yang didatangkan dari Sulawesi maupun Jawa. 

“Perlu ada kerja sama dengan pemerintah, untuk bisa mendukung rempah ini bisa bersaing dan memenuhi pasar internasional. Kan kami kerja sama dengan Dinas Pertanian Kaltara. Ada program pelatihan petani milenial berorientasi ekspor,” ungkapnya. 

Sementara itu, pelaku usaha ekspor lada Anya Mandalika Surya mengungkapkan, sudah beberapa kali mengirimkan lada asal Kaltara ini ke Tiongkok dan Vietnam. Dalam sebulan pengiriman bisa mencapai 4-5 kontainer melalui pelabuhan Berau, Kaltim.

“Kalau pengiriman ke Amerika, hanya 1 ton. Tidak banyak, karena memang permintaan mereka tidak pernah banyak dan tidak setinggi Tiongkok dan Vietnam. Nanti kalau di Tiongkok dan Vietnam itu kan diproduksi dulu, jadi bubuk dan dishare ke negara lain. Termasuk ke negara kita,” bebernya.

Lada yang di ekspor ini tidak hanya berasal dari Mangkupadi. Melainkan juga dihasilkan dari pertanian Tanah Kuning, Kabupaten Bulungan dan Malinau. Dari satu wilayah di Kaltara, belum bisa memenuhi kebutuhan ekspor dan harus mengumpulkan dari daerah lain. 

“Lada dalam bentuk masih bijian. Dikumpulkan di gudang di Tanjung Selor dan dibawa ke Berau. Untuk masuk dalam kontainer sebelum dikirim negara tujuan ekspor. Pengiriman lada via Pelabuhan Berau, tidak bisa melalui Pelabuhan Malundung Tarakan,” tuturnya. 

Hal itu, lanjut dia, dikarenakan menyeberang ke Tarakan tidak ada akses. Apabila melalui Kabupaten Tana Tidung (KTT) ke Tarakan, biaya transportasi lebih mahal. Sedangkan lewat darat biaya lebih murah. 

Usaha ekspor lada ini, kata Anya, sudah dimulainya sejak tahun 2019 lalu. Meski di masa pandemi Covid-19, ia tidak memiliki kendala dan permintaan pasar tetap ada. Tidak ada penurunan, dengan omzet mencapai miliaran rupiah. 

Berbeda dengan lada, untuk ekspor kunyit mentah tidak memungkinkan dan memiliki risiko tinggi. Karena dipastikan rusak saat masih dalam perjalanan. Ekspor kunyit harus dalam bentuk bubuk, sedangkan lada bisa di ekspor dalam bentuk bijian.

“Kalau lada, biar berapa tahun tidak akan rusak. Kami kirim dalam kondisi kadar air 13 persen, jadi tidak mungkin rusak. Setelah diambil dari petani, dipetik lalu direndam seminggu dan dijemur. Tak memakan waktu lama, bisa 2-3 hari saja,” pungkasnya. (sas/uno)