TANJUNG SELOR – Sekatak yang merupakan kecamatan di Kabupaten Bulungan diketahui menjadi lokasi penambangan emas secara ilegal. Selama bertahun-tahun, kegiatan ilegal itu banyak menelan korban. Baik kecelakaan kerja di lubang tambang maupun persoalan sosial yang menyebabkan konflik hingga ada korban. 

Kapolres Bulungan AKBP Ronaldo Maradona T.P.P Siregar mengaku hingga kini, masih sulit untuk mencari solusi menyelesaikan persoalan di Sekatak. Jumlah personel yang ada di Polres Bulungan secara keseluruhan hingga Polsek sebanyak 400 personel. Bahkan harus membackup Kabupaten Tana Tidung (KTT).

“Kita harus mempelajari kondisi di sana (Sekatak) dan dampaknya. Ini yang juga kita koordinasikan dan sampaikan kepada Bupati Bulungan serta stakeholder terkait,” ungkapnya, Selasa (4/1).

Artinya, lanjut dia, ke depan harus ada langkah yang komprehensif, berkaitan dengan penyelesaian permasalahan sosial di Sekatak. Berdasarkan informasi yang diterima, ada 6.000 orang di Sekatak dengan cakupan wilayah yang cukup luas. Bahkan bukan hanya warga Bulungan ataupun Kaltara saja. Melainkan banyak pendatang dari luar Kaltara bermukim di Sekatak. 

“Salah satu yang awalnya saya lakukan, saat bertugas di Bulungan adalah memutus penyebaran masuknya Sianida di sana (Sekatak). Karena kita tahu, Sianida digunakan untuk mengolah emas. Namun kemudian bergeser pola pengirimannya. Jadi saya butuh waktu memetakannya lagi,” jelasnya.

Kecelakaan kerja dan konflik yang terjadi, merupakan persoalan yang harus diselesaikan. Sebab jika salah menanganinya, akan muncul persoalan baru. Oleh karenanya, diperlukan bantuan dan pemikiran dari seluruh stakeholder terkait dalam menyelesaikan persoalan di Sekatak. Mulai dari konflik sosial, hingga pidana. (fai/uno)