TANJUNG SELOR - Penguatan kapasitas Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) pangan lokal terus diupayakan. Melalui pelatihan, promosi, dan pemasaran dengan mengoptimalkan media dan sumber daya yang ada. 

Hal ini sejalan dengan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, yang menekankan agar pangan lokal naik kelas dan mampu menjangkau berbagai kalangan masyarakat secara luas. 

Terdapat 60 persen pelaku usaha pangan di Indonesia merupakan UMKM. Sektor ini telah memberi kontribusi yang besar bagi perekonomian nasional. Kementerian Pertanian (Kementan) telah bekerjasama dengan berbagai sektor, untuk mendorong pengembangan UMKM pangan lokal. 

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kaltara memiliki 10 UMKM binaan, yang masuk dalam kegiatan pengembangan industri pangan lokal dari Badan Ketahanan Pangan Kementan. UMKM tersebut terdiri dari 8 UMKM (Bulungan), 1 UMKM (Nunukan), dan 1 UMKM (Tarakan). 

“Sepuluh UMKM itu telah mendapat edukasi dan difasilitasi oleh pemerintah, untuk mempromosikan produk mereka. UMKM yang ditunjuk merupakan UMKM yang bergerak di bidang pemanfaatan pangan lokal non beras seperti singkong, talas, jagung, pisang, dan ubi jalar,” jelas Kepala Bidang Ketahanan Pangan DPKP Kaltara Diana Risawaty, Rabu lalu (15/12). 

Diharapkan dengan adanya dukungan dari pemerintah, dapat meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan keahlian pelaku UMKM pangan lokal Provinsi Kaltara. Dalam pengelolaan usaha, peningkatan mutu, daya saing produk dan pemasaran. 

Menurut Diana, UMKM Provinsi Kaltara harus membentuk korporatisasi. Agar memiliki bargaining position atau posisi tawar yang bagus. Untuk menentukan harga suatu produk industri pangan.

Penguatan kapasitas UMKM, lanjut Diana, perlu dilakukan. Mengingat peran strategisnya dalam pertumbuhan ekonomi. Diantaranya menciptakan lapangan kerja dan kontribusinya dalam menyumbang Produk Domestik Bruto (PDB). 

“Pemberdayaan UMKM pangan lokal dilakukan dengan meningkatkan akses permodalan, manajemen usaha, dan kapasitas sumber daya manusia pengelolanya,” ujar Diana. 

Disisi lain, penguatan UMKM pangan lokal akan meningkatkan kualitas produk pangan lokal dan akses masyakarat secara kontinyu. Pengembangan diversifikasi pangan lokal dipandang strategis dalam menunjang ketahanan pangan. Berkaitan di sisi hulu, yaitu aspek ketersediaan pangan yang beragam, produksi/pengolahan dan pemberdayaan UMKM. 

Untuk menggerakkan ekonomi masyarakat (penciptaan dan pengembangan usaha ekonomi produktif). Di sisi hilir (pemasaran) juga harus dikondisikan melalui kemitraan eskalasi usaha. Agar sisi hulu dapat bergerak secara berkelanjutan. 

Dikatakan Diana, pengembangan industri pangan lokal dalam meningkatkan nilai tambah produk pangan lokal dapat dilakukan dengan menggerakan dan memberdayakan sektor UMKM. Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan 99 persen pelaku usaha adalah UMKM. Yang menyumbang 60,34 persen PDB, dan menyerap hingga 97 persen tenaga kerja. (uno2)