ANTISIPASI gelombang ketiga Covid-19 telah dilakukan semua pihak. Termasuk Ombudsman RI, yang melakukan koordinasi dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan guna mempersiapkan kemungkinan terburuk. Apabila nantinya ada lonjakan pasien terkonfirmasi positif Covid-19.

Anggota Ombudsman RI Indraza Marzuki Rais mengakui sudah melakukan diskusi dengan Pemkot Tarakan. Dengan memberi informasi dan masukan, dalam penanganan Covid-19. Sekaligus persiapan menghadapi kemungkinan gelombang ketiga, di akhir tahun ini dan awal tahun depan.

“Saat ini kondisinya sudah melandai dan sangat menurun. Tapi, yang perlu kami ingatkan sebentar lagi akhir tahun. Tarakan sebagai kota besar di Kaltara, selain Berau dan sebagai transit, pusat mobilitas orang keluar masuk. Kami minta kesiapan dari Satgas,” terangnya, Kamis (2/12).

Menurutnya, antisipasi yang harus dilakukan Satgas Percepatan Penanganan Covid-19 dimulai sejak saat ini. Dikhawatirkan masyarakat lalai dalam penerapan protokol kesehatan (Prokes). Ditambah lagi ada yang beranggapan saat ini sudah dalam keadaan aman. “Paling genting, bagaimana mobilitas orang akan semakin banyak,” tegasnya. 

Ada beberapa catatan masukan yang disampaikan kepada Satgas, salah satunya mengingatkan kembali kesiapan mulai dari awal. Penerapan 3T (Testing, Tracing dan Treatment), yang merupakan upaya atau tindakan melakukan tes. Penelusuran kontak atau tracing dan tindak lanjut berupa perawatan bagi pasien Covid-19. 

Pihaknya meminta kepada rumah sakit, untuk mempersiapkan kemungkinan terburuk. Dengan menghitung ketersediaan oksigen, tempat tidur pasien, tenaga medis, obat-obatan dan persiapan mitigasi Covid-19. Terutama jika terjadi ledakan Covid-19 di Tarakan maupun di Kaltara. Terlebih lagi, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) yang sudah berganti nama menjadi Jusuf SK menjadi rumah sakit rujukan se-Kaltara. 

“Sejauh ini penanganan Covid-19 di Tarakan saya kira sudah cukup bagus. Waktu gelombang kedua pada Juni hingga Agustus sempat kewalahan. Tapi, dengan kesigapan dari Pemkot Tarakan dan Satgas, bisa ditangani. Meskipun ada catatan kecil terkait sampah medis,” ungkapnya.

Kesiapan tenaga kesehatan, lanjut Indraza, harus diperhatikan. Penyebaran Covid-19 yang bisa lebih cepat, terutama untuk mutasi virus. Bisa mengakibatkan tenaga medis dengan mudah terpapar. (sas/uno)