TIDENG PALE – Warga mengeluhkan dengan adanya aktivitas pengerukan tanah di Jalan Perintis Tana Tidung. Pasalnya, timbunan tanah pasca hujan hingga ke jalan raya. Mengakibatkan jalan tersebut menjadi becek dan berlumpur. 

Bahkan, aktivitas pengerukan tanah memang tidak berjalan masif. Hanya saja dampak yang dirasakan setelah pengerukan itu membuat jalan gampang rusak. Secara otomatis penggendara yang melintasi, tidak nyaman dan ekstra waspada. 

“Pengerukan tanah itu sepertinya mau dijual kembali untuk timbunan. Sebenarnya itu tidak masalah, kalau penanganannya benar dan tidak menggangu. Persoalannya sekarang sisa tanah itu masuk ke jalan dan jika hujan jadi berlumpur, becek dan membahayakan penggendara,” ucap salah seorang warga Hendra (38), Senin (29/11). 

Dampak lain yang ditimbulkan, lanjut Hendra, ketika musim kemarau. Bekas sisa tanah tersebut mengering dan menimbulkan debu. Apabila tidak ditangani dengan baik, maka imbasnya nanti akan beruntun. Genangan air yang tersisa akan mempengaruhi kualitas aspal. 

“Sebaiknya ada dinas terkait, agar bangun drainasenya. Sehingga baik lumpur maupun air tidak tergenang di badan jalan,” sarannya. 

Bagi penggelola tanah tersebut, menurut Hendra, sebaiknya ada pembatas khusus yang dibuat. Agar, sisa bekas tanah galian tidak sampai ke badan jalan. Hal senada diungkapkan warga lainnya Saleh (30), bahwa perlu dibangun drainase jalan. Ketika hujan, air tidak tergenang ke badan jalan. Bukan hanya di Jalan Perintis ini saja, tapi beberapa ruas jalan lainnya. Yang memang masih perlu pemerhati dari dinas terkait. 

“Termasuk jalan menuju Arah Limbu Sedulun. Itu jika hujan, lumpur serta kayu-kayu kecil berhambur di badan jalan. Karena tidak ada drainase, sehingga air dari gunung langsung menuju ke badan jalan. Semoga hal ini dapat segera ditindaklanjuti,” harapnya. (*/mts/uno)