TARAKAN - Kapal pengangkut sembako dan bahan bangunan KM Subur Indah dilaporkan hilang kontak di perairan Pantai Amal, Sabtu lalu (27/11). Sebelumnya kapal tersebut akan melakukan perjalanan dari Tarakan menuju Sebatik, Nunukan. 

Dari keterangan pemilik kapal, KM Subur Indah memiliki rute dari Jembatan Besi Tarakan ke Kecamatan Sebatik, Nunukan. Muatan bahan bangunan dan sembako, dengan 5 Anak Buah Kapal (ABK) termasuk nakhoda.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Tarakan Amiruddin menjelaskan, kapal berangkat dari Tarakan sekira pukul 22.00 Wita pada Sabtu (27/11). Setelah nakhoda kapal melaporkan sedang melewati Pantai Amal, tidak ada komunikasi lagi. Kapal dengan muatan 60 Gross Ton (GT) ini kemudian dipastikan lost contactdan dilaporkan ke SAR Tarakan. “Baru hari ini (kemarin, Red) dilaporkan ke kami. Jadi, kurang lebih sudah tiga hari berlalu,” katanya, Senin (29/11). 

Dari informasi yang ia dapat, kecepatan kapal sekitar 6 knot per jam. Setelah dihitung, dari 4 knot dikali 4 jam perjalanan diperkirakan baru 24 mil berlayar. Sehingga, diperkirakan sudah berada di perairan antara Pulau Bunyu dan Pulau Tarakan. 

Tim SAR melakukan pencarian menggunakan RIB, memutar antara Pulau Sebatik dan Pulau Bunyu. Mengikuti track kapal, diperkirakan jangan sampai nakhoda kapal menggunakan jalur dalam atau antara Pulau Bunyu dan Pulau Mangkudulis. 

“Sudah kami lakukan pemeriksaan semua, hasilnya masih nihil. Sampai 17.00 Wita hari ini (kemarin, Red), semua tim SAR gabungan menghentikan sementara pencarian dan akan melanjutkan lagi besok (hari ini, Red), sesuai rencana kedua nanti yang akan kami buat,” jelasnya.

Menurutnya, secara jangka waktu keberangkatan hingga lost contact diperkirakan sudah 2 hari. Namun, untuk hari keberangkatan, selama 3 hari karena berangkat pada Sabtu lalu. Namun pihaknya belum bisa memastikan jika kapal kelebihan muatan. Sebab, dari estimasi barang yang dibawa, kemungkinan full dengan panjang kapal sekitar 25 meter dan GT 60 yang cukup besar. 

“Kami turunkan 7 personel dari SAR Tarakan, ditambah personel Polair sekitar 5 sampai 6 orang dan Lantamal, Pos AL Bunyu 3 orang dan Satrol 5 orang. Ada banyak potensi yang kami libatkan. Sistem pencarian dengan berbagai sektor melakukan penyisiran,” ungkapnya. 

Dalam proses pencarian, tidak terlalu terkendala dengan cuaca. Namun, kendalanya dengan perhitungan kasar di jalur pelayaran dari Tarakan ke Nunukan, tidak ada spot yang blank area dan semua ada sinyal telekomunikasi. “Masih kami rundingkan dengan teman-teman, potensi yang terlibat. Menjadi acuan kami, handphone sudah menjadi kebutuhan dasar. Tapi tidak ada yang bisa dihubungi,” bebernya. 

Pencarian di hari pertama ini, dilakukan sesuai rute perjalanan sekitar 45 sampai 50 Nautical Mile (NM) mengarah ke utara. Sedangkan titik pencarian akan memperluas atau memperlebar ke arah timur. “Perhitungan kami, kalau seandainya kapal di daerah blank spot berarti sudah di arah dari Tarakan ke Nunukan. Mungkin sudah bergeser ke arah laut lepas,” pungkasnya. (sas/uno)