TIDENG PALE – Dalam proses pembuangan sampah, baik yang dihasilkan dari rumah tangga, pelaku usaha dan perkantoran di Kabupaten Tana Tidung (KTT), saat ini belum dipilah antara sampah organic dan non organik. 

Hal tersebut berbeda apabila adanya pengolahan khusus atau metode ditimbang, maka kemungkinan ada proses pemilahan. Untuk kemudian didaur ulang atau dijadikan pupuk alami. Mengingat, sampah rumah tangga dan lainnya bisa ramah lingkungan tergantung dari sistem pengolahan. Seperti pengolahan sampah dengan menggunakan metode teknologi biokonversi. 

Di KTT, pengolahan dengan teknologi biokonversi masih sangat terbatas. Jumlahnya hanya ada di dua desa, yakni Desa Kujau dan Desa Rian. Pengolahan seperti ini, kemungkinan akan bertambah bila melihat ketersediaan anggaran. 

“Itu modelnya TPS3R (Tempat Pengelolaan Sampah Reuse, Reduce, dan Recycle), kalau di Kujau pas di taman ekowisata. Manfaatnya sangat efektif dan itu yang menangani masih pihak desa dan masyarakat setempat,” jelas Pelaksana Tugas (Plt) Dinas Lingkungan Hidup (DLH) KTT Didik Darmadi, Minggu (28/11). 

Pasalnya, menurut Didik, metode pengolahan sampah ada kaitanya dengan sampah yang dihasikan oleh setiap rumah tangga, pelaku usaha dan perkantoran. “Untuk sampah yang dihasilakan masih variasi. Pematokan retribusi juga berdasarkan volume sampah,” tuturnya. 

Retribusi sampah pagi setiap rumah tangga dikenakan Rp 5 ribu sebulan. Kegiatan usaha itu sekitar Rp 10 ribu dan perkantoran Rp 25 ribu. “Pematokan retribusi juga berdasarkan volume sampah yang dihasilkan. Terkait pengangkutan, armada dan lainnya sampai saat ini tergolong aman belum ditemukan kendala. Untuk pembenahan terus dilakukan, termasuk kesadaran dari masyarakat saat membuang sampah,” pungkasnya. (*/mts/uno)