TARAKAN – Demplot bawang merah di Kota Tarakan akhirnya membuahkan hasil, melalui upaya yang dilakukan Kelompok Tani Flora dan Fauna Mandiri di Kelurahan Juata Permai, Kecamatan Tarakan Barat.

Sebelumnya demplot bawang merah sudah dilakukan sejak November tahun lalu. Ketika itu ujicoba dilakukan oleh Kelompok Tani Sinar Harapan di Kelurahan Kampung Empat, Kecamatan Timur. Namun gagal panen.

Kini, melalui kelompok tani Flora dan Fauna Mandiri yang diketuai Darmawan dan mencoba pada lahan lain di Kelurahan Juata Permai di Tarakan Utara, dempot bawang merah tumbuh bagus dan telah tiga kali panen.

“Alhamdulillah dari dua kali panen, sebelumnya tanggal 17 dan 24, menunjukkan hasil yang sangat menggembirakan, ujar Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Kaltara Tedy Arif Budiman kepada awak media, Minggu (28/11).

Laporan yang ia terima, panen pertama pada 17 November menghasilkan 9,6 ton per hektare bawang merah. Sementara pada 24 November mencapai 6,7 per hektare. Jika dirata-ratakan mencapai 8,15 ton per hektare. Angka yang dinilai di atas produksi bawang merah di Kaltara.

Meskipun capaian masih sedikit di bawah rata-rata nasional, Tedy bisa memaklumi. Karena ada pengaruh dari periode tanam yang dilakukan pada kondisi curah hjuan. Di samping itu, petani baru perdana melakukan sehingga pengalaman dinilai belum memadai.

“Kebayangkan kalau misalnya petaninya sudah terbiasa, kemudian periode tanamnya sangat mendukung. Misal pada Juli, mungkin tidak tertutup kemungkinan hasilnya jauh di atas rata-rata nasional,” tuturnya.

Dengan panen ini, Tedy berharap petani di Tarakan menjadi terbuka. Bahwa tanah di Tarakan ternyata mampu menghasilkan bawang merah yang tidak kalah dengan di Pulau Jawa. Sekaligus menjadi tanaman alternatif bagi petani, untuk membudidayakan yang bisa memberikan hasil yang menggembirakan.

Sementara bagi KPwBI Kaltara dan Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan, dengan panen ini diharapkan ke depan tidak bergantung lagi dengan pasokan di luar Kaltara. Karena selama ini bawang merah disuplai dari Pulau Jawa dan Sulawesi. Yang dapat berdampak pada harga jual yang tinggi hingga menyebabkan inflasi.

“Dengan pelajaran adanya pandemi, ketika PPKM, pengiriman terganggu, ya harganya langsung melonjak. Pelan-pelan kita upayakan menanam sendiri, mungkin secara bertahap tidak secara langung. Kalau memungkinkan kita swasembada, bahkan bisa ekspor ke kabupaten yang lain,” harapnya.

Tedy menyerahkan kepada pemerintah daerah maupun kelompok tani untuk mengevaluasinya. Apakah bisa dilakukan terus menerus atau diselang-seling. Informasi yang diperolehnya, Pemkot Tarakan akan membuatkan Standar Operasional Prosedur (SOP) menanam bawang yang ideal di Kota Tarakan. Disamping itu, dari hasil panen ini, kelompok tani telah memiliki bibit untuk perputaran masa tanam berikutnya.

Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Flora dan Fauna Darmawan mengakui, panen yang dilakukan pada Minggu (28/11) di Kelurahan Juata Permai, merupakan panen terbaik dari tiga kali panen yang sudah dilakukan. Dengan 9,4 ton bawang merah kering per hektare.

“Untuk tingkat keberhasilan baru ini yang bisa dicapai,” ujar pria yang juga menjabat Sekretaris Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Tarakan, Minggu (28/11).

Menurut Darmawan, masa tanam hanya membutuhkan waktu 50 hari, lebih cepat dari masa tanam di Pulau Jawa. Bahkan pernah panen dalam waktu 47 hari. Masa tanam periode ini dilakukan di lahan kurang lebih 1 hektare, yang tersebar di tiga titik di Kelurahan Juata Permai.

Darmawan mengakui, cara tanam bawang merah di Tarakan punya tantangan tersendiri. Yakni dihadapkan pada menyesuaikan dengan iklim atau curah hujan. Untuk mengantisipasi hal itu, pihaknya menyiasati dengan lebih teliti memperhatikan tanaman.

“Yang harus kita perhatikan betul curah hujan tinggi akan menyebabkan tanaman rusak penyebabnya jamur. Harus kita atasi dengan fungisida. Fungisida itu bermacam-macam, kita cari yang cocok untuk di Tarakan,” ungkapnya.

Diakui Darmawan, hasil panen ini belum bisa mencukupi kebutuhan Tarakan. Namun, peluang itu sangat besar andai petani di Tarakan tertarik mengembangkan tanaman bawang merah.

Sedangkan untuk lahan, Darmawan menilai mendukung. Bahkan, meskipun menanam di saat curah hujan cukup tinggi seperti menjelang akhir tahun ini, pihaknya masih bisa mengatasi. Apalagi jika ditanam pada kondisi curah hujan yang tidak terlalu tinggi.

Karena itu, pihaknya berencana untuk terus melanjutkan penanaman bawang merah ini dengan SOP berbeda. Sedangkan untuk lahan, pihaknya berharap ada dukungan dari petani lain untuk pengembangannya. Karena pihaknya juga terbatas pada lahan yang ada.

Adapun bibitnya, dari hasil panen ini. Selain akan dijual untuk biaya produksi selanjutnya, pihaknya juga akan memilih bawang merah terbaik sebagai bibit. Karena bibit lokal dinilai lebih kuat daripada bibit dari luar daerah, karena sudah beradaptasi dengan iklim di Tarakan. (mrs/uno)