TAWURAN antar pelajar, melibatkan tiga sekolah terjadi di pinggir jalan Kelurahan Karang Harapan, Selasa lalu (23/11). 

Warga yang merasa terganggu dengan tawuran puluhan pelajar, melaporkan ke Bhabinkamtibmas hingga diteruskan ke Polsek Tarakan Barat. “Setelah kami tindaklanjuti, permasalahan tawuran karena salah paham. Para pelajar ini sebenarnya baru pulang sekolah, saling ejek kemudian terjadi perselisihan,” ujar Kapolsek Tarakan Barat Iptu Angestri Budi Reswanto, Rabu (24/11).

Untuk menyelesaikan persoalan tersebut, diupayakan lakukan mediasi, dengan menghadirkan para orangtua dan perwakilan sekolah. Termasuk beberapa siswa yang ikut tawuran.

Dari mediasi yang dilakukan, seluruh pelajar yang terlibat tawuran diminta untuk membuat surat pernyataan. Selanjutnya, pihak sekolah menindaklanjuti sesuai aturan yang berlaku di sekolah masing-masing. Pihak sekolah akan memberikan sanksi atau pembinaan, agar para pelajar tidak mengulangi kembali perbuatannya. 

“Satu siswa mengalami luka di bagian pelipis. Sudah kami bawa berobat dan keterangan dokter, luka di bagian kening tidak fatal,” jelasnya. 

Para pihak sepakat untuk menyelesaikan permasalahan secara kekeluargaan. Dengan mempertemukan semua pihak, diharapkan permasalahan tawuran tidak mengarah ke konflik Suku , Agama, Ras dan Antar Golongan (SARA). Terlebih lagi, ketiga sekolah para pelajar ini berada di lokasi yang berdekatan. 

Dikhawatirkan, jika tidak diselesaikan cepat maka akan terjadi tawuran susulan. Angestri menyebut, tawuran yang terjadi Selasa (23/11) sudah ketiga kalinya. Tawuran pertama saat kegiatan vaksinasi, Oktober lalu dan Sabtu (20/11). Puluhan pelajar datang secara mandiri, setelah saling berkomunikasi via medsos. Namun, tidak ditemukan senjata tajam (sajam).

“Inilah peran orangtua, untuk mengawasi anak-anaknya menggunakan medsos. Pelajar menghembuskan isu di medsos, kemudian berkumpul hingga terjadi tawuran. Ada beberapa dari pelaku tawuran yang putus sekolah juga,” ungkapnya. 

Mengantisipasi tawuran terjadi kembali, pihaknya sudah meminta Bhabinkamtibmas untuk meningkatkan patroli, pembinaan dan sosialisasi ke pemuka agama maupun perangkat RT dan sekolah. Proses pembelajaran yang masih dalam masa ujicoba ini juga diminta untuk menjadi pengawasan semua pihak. Agar tidak terjadi saling ejek dan tawuran. 

“Tahun ini saja kami tangani 4 kali tawuran. Perlu penanganan maksimal memang, melibatkan semua pihak,” imbuhnya. 

Ia meminta sekolah menentukan titik penjemputan pelajar sepulang sekolah. Terlebih lagi, syarat Pembelajaran Tatap Muka (PTM) ujicoba ini, orangtua bersedia antar jemput para siswa. Melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Tarakan, pihaknya mengusulkan bus antar jemput. 

“Kami minta perangkat desa atau tokoh masyarakat menginventarisir, anak-anak yang tidak sekolah mendapatkan fasilitas pendidikan. Saya ajak anak-anak ini untuk melihat rutan Polsek. Untuk mengedukasi konsekuensi jika terlibat tindak pidana,” tuturnya. (sas/uno)