Kekhawatiran Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Tarakan terhadap kemungkinan terjadi lonjakan harga tiket pesawat udara mulai tampak.

 

TARAKAN–Ahmad Maulana, mantan kepala Dinas Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Tarakan, beberapa hari lalu berangkat dari Tarakan menuju Jakarta dengan pesawat Lion Air, membeli tiket Rp 2,5 juta.

Kenaikan itu drastis jika dibandingkan sebelumnya. Yang diketahui harga tiket pesawat tujuan Tarakan–Jakarta sebelumnya hanya berkisar Rp 1,5–1,6 juta. Harga yang kurang lebih sama juga diperoleh saat membeli tiket tujuan Tarakan. Maulana berencana kembali ke Bumi Paguntaka setelah menyelesaikan kegiatannya. Pria yang juga menjabat ketua Persatuan Tenis Lapangan Indonesia (Pelti) Kaltara menilai, tarif itu terlalu mahal dan memberatkan masyarakat yang hendak mengakses transportasi tersebut. “Mahal banget,” ungkapnya.

Ahmad Maulana berharap banyak maskapai yang masuk di Tarakan. Agar ada persaingan antara satu dan lainnya. Sepengetahuannya, yang ada saat ini untuk pesawat berbadan besar hanya Wing Air dan Lion Air.

Sementara itu, Manajer Lion Air Tarakan Muhammad Arif menegaskan, harga tiket belum melewati ambang batas yang diatur dalam Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub). “Jelas tidak akan mungkin dijual di atas melebihi tarif batas yang sudah ditentukan,” ujarnya. Arif kurang mengetahui nominal tarif ambang batas atas yang diatur dalam aturan. Yang diketahui, disesuaikan dengan jenis pesawatnya. Lion Air sendiri menggunakan pesawat jenis ATR untuk tujuan Tarakan-Balikpapan-Tarakan.

Jika ada penumpang yang membeli tiket melebihi tarif ambang batas atas, Arif menilai karena rutenya transit, tidak langsung. “Rp 1,5 juta lewat mana dulu, garga tertinggi Lion Air ke Makassar itu Rp 1,4 juta. Tidak akan mungkin mencapai angka Rp 1,5 juga. Rp 1,5 juta itu dilihat dia lewat mana dulu, Kalau transit pasti beda harganya. Karena itu tadi, ada faktor lain yang memengaruhi,” tambahnya. Sebenarnya, menurut Arif, harga tiket tidak pernah dinaikkan. Karena setiap penjualan ada perhitungan yang dilakukan perusahaan, tidak mungkin perusahaan mau rugi.

“Kalau ditanya harga tiket naik, enggak. Harga tiket tidak pernah dinaikkan, memang seperti itu. Harga tiket itu mengikuti jenis pesawat yang dipakai dan berapa lama perjalanan yang ditempuh,” tuturnya. “Jadi gambarannya begini, setiap melakukan perjalanan, pesawat itu dihitung per jam operasionalnya. Satu jam perjalanan misalnya anggap kalau menggunakan pesawat besar Rp 180–200 juta, Rp 200 juta itu operasional yang tidak bisa ditoleransi, maksudnya yang tidak bisa dikurang-kurangi, sehingga itu yang memengaruhi,”  ungkapnya.

Menghadapi Natal dan tahun baru, Arif menyebut pihaknya belum memiliki rencana untuk menambah flight, pasalnya ada pertimbangan penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 3 yang akan dilaksanakan serentak se-Indonesia pada 24 Desember 2021 hingga 2 Januari 2022. “Bulan depan PPKM lagi, saya pikir enggak mungkin. Tapi yang ada saat ini saja yang mungkin dipertahankan,” tuturnya. Saat ini, Wings Air melayani penerbangan ke Tarakan sebanyak lima kali dalam sehari dengan tujuan Tarakan-Balikpapan. Sedangkan Lion Air dua kali dalam sehari dengan tujuan Tarakan–Makassar dan Tarakan–Surabaya. (kpg/mrs/dra/k8)