NUNUKAN – Menyusul peringatan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) akan cuaca ekstrem yang berpotensi banjir pada November 2021–Februari 2022. 

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nunukan meminta masyarakat siapsiaga dengan kemungkinan tersebut. Selain memberikan warning potensi bencana di musim cuaca penghujan, BPBD meminta masyarakat waspada ancaman ikutan. Ancaman tersebut berasal dari banyaknya habitat buaya yang saat ini sudah berkembang biak.

“Ancaman ikutan wajib menjadi perkara kewaspadaan lain. Kami sering melihat buaya berjejer di tengah sungai dan memasuki pemukiman warga saat banjir. Belum lagi banyaknya ular hitam, yang keluar dari hutan akibat banjir, terang Kepala Seksi Kedaruratan dan Kesiapan Logistik BPBD Nunukan Hasan, Jumat (19/11).

Warning tersebut karena mempertimbangkan saat ini, habitat buaya diduga kian bertambah. Saat air meluap, predator air tersebut bisa leluasa masuk rumah panggung warga dan mengancam keselamatan. “Sepertinya habitat ini kian berkembang biak. Di bawah tower pemantau hujan di wilayah Mansalong, malah sudah menjadi lokasi favorit buaya,” ungkapnya. 

BPBD Nunukan sudah melakukan komunikasi intens dengan BMKG dan stakeholder. Setiap saat, BPBD mengupdate data perkembangan cuaca dari BMKG. BMKG telah memprediksi 4 kabupaten di Kaltara berpotensi banjir, meliputi Nunukan, Malinau, Bulungan dan KTT.

Hasan menegaskan, khusus Kabupaten Nunukan, wilayah pedalaman yang dikenal sebagai Dapil 3, butuh perhatian ekstra setiap musim hujan tiba. Apalagi, fenomena La Nina, menjadikan potensi bencana tersebut semakin meluas dan besar.

BPBD Nunukan mencatat setiap tahunnya terjadi banjir dengan jumlah rata-rata 9 kali di wilayah pedalaman. Pada Januari 2021 lalu, BPBD menetapkan tanggap darurat akibat sekitar 6.000 Kepala Keluarga (KK) di wilayah ini, terdampak banjir.

“Di satu sisi, Nunukan mengalami siklus banjir tahunan. Hal ini membuat masyarakat lebih siap dan terbiasa. Sehingga memudahkan BPBD dalam evakuasi dan penindakan lainnya,” ungkapnya. 

Antisipasi pun dilakukan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltara. sebagai kesiapsiagaan terhadap potensi banjir saat cuaca ekstrem datang, Gubernur Kaltara Zainal Arifin Paliwang sudah mengeluarkan Surar Edara (SE) atas masalah ini. 

Edaran tersebut tertuang pada SE Gubernur Kaltara Nomor 370/3806.3/BPBD/GUB tentang Kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem di Kaltara. Dalam SE tersebut, terdapat tiga poin yang menjadi penekanan. 

Pertama, agar pemerintah daerah meningkatkan koordinasi dengan BMKG di wilayahnya. Untuk mendapatkan prediksi perkembangan cuaca lebih dini. Sebagai dasar tindak lanjut dan kebijakan penanganan bencana.

Kedua, pemerintah daerah memperkuat sinergitas antar dinas dan aparatur. Untuk melakukan langkah-langkah kesiapsiagaan, sesuai tugas pokok fungsi dan kewenangannya masing masing.

Ketiga, supaya pemerintah daerah meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem dan kondisi yang ditimbulkan.

“Jadi saat ini bencana banjir tak lagi terpusat di satu wilayah, seperti beberapa tahun lalu. Bahkan semua daerah memiliki potensi yang sama, hanya memang keparahannya berbeda,” jelas Gubernur. 

Wakil Gubernur Kaltara Yansen Tipa Padan menambahkan, cuaca ekstrem merupakan model dari iklim Kaltara, yang sulit untuk diprediksi. Seperti hujan dan angin, cukup sulit untuk diprediksi. Terkadang, hujan deras di satu titik, namun panas di titik lain. 

“Kepada masyarakat, untuk tetap waspada dan berhati-hati terhadap semua tindakan. Utamanya kepada nelayan yang beraktivitas di laut, harus tetap waspada terhadap kondisi cuaca yang tidak menentu ini,” pintanya.

Menurutnya, meski memiliki pengalaman dalam melaut, namun masyarakat tidak bisa mencegah segala sesuatu yang terjadi. Kondisi ini menjadi atensi khusus pemerintah daerah, tidak hanya di tingkat provinsi. Tapi juga di kabupaten dan kota, untuk memberikan peringatan kepada masyarakat. (*/lik/*/viq/fai/uno)