TIDENG PALE -  Harga komoditas sembako di Kabupaten Tana Tidung (KTT) mulai merangkak naik. Salah satunya minyak goreng untuk semua merk.

Sebelumnya, harga minyak goreng Bimoli per liter Rp 15 ribu. Namun, dalam sepekan terakhir harganya naik menjadi Rp 20 ribu per liter. Kondisi ini dikeluhkan warga dan para pedagang. Karena naiknya harga dari agen, otomatis jual ke pengecer ikut dinaikkan.

Salah seorang pedagang Lala (40) yang biasa berjualan di Pasar Imbayuk Taka KTT mengaku, kenaikan ini banyak dikeluhkan konsumennya. “Pasti mengeluh mas, tapi mau bagaimana lagi. Mengingat minyak goreng ini sudah menjadi kebutuhan pokok. Baik untuk kebutuhan masak, goreng-gorengan dan keperluan lain,” ucap Lala.

Diakuinya, hingga saat ini baru minyak goreng yang harganya berubah. Sementara, komoditas yang lain masih stabil. Diharapkan, dengan kenaikan harga minyak goreng ini dapat berimpas pada daya beli masyarakat.

“Semoga kenaikan tak berkepanjangan sampai Natal atau Tahun Baru nanti. Tapi, biasanya sembako ini kalau sudah harga naik, jarang sekali kembali turun,” tuturnya.

Salah seorang pelayan Agen Saroja yang tidak ingin namanya dikorankan, mengatakan biasanya kenaikan itu hampir setiap minggu. “Kita dari agen menjual sesuai harga yang telah dipatok distributor. Barang yang kita jual kebanyakan dari Berau Kaltim,” ujarnya.

Minyak goreng Bimoli ukuran 5 liter sebelumnya dijual Rp 75 ribu. Akhir-akhir ini harga mulai dinaikkan menjadi Rp 95 ribu- Rp 100 ribu. Bahkan, tidak menutup kemungkinan tahun depan terjadi kenaikan. Karena hampir setiap minggu harganya naik, mulai dari Rp 2 ribu- Rp 5 ribu.

Menyikapi kenaikan harga minyak goreng tersebut, Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah (Disperindagkop UMKM) KTT dalam waktu dekat akan mengecek ke pasar dan agen.

Pasalnya, selama ini instansinya telah menerapkan hal serupa. Bertujuan untuk menggetahui penyebab kenaikan komoditas sembako, yang ikut berimbas di KTT.

“Kalau untuk harga minyak goreng, kita telah mendapatkan informasinya. Kenaikannya sejak Oktober lalu dan itu memang langsung dari distributor ke agen. Lalu dari agen ke pengecer. Kita nanti bakal turun ke lapangan, untuk memastikan itu,” jelas Kabid Perdagangan Disperindagkop KTT Rico Ardianto.

Menurut Rico, kenaikan harga minyak goreng bukan berpatok pada satu merk. Melainkan berlaku bagi semua jenis. Biasanya, hukum pasar jika produksinya terbatas besar kemungkinan harganya naik.

“Tapi biasanya menjelang hari raya keagamaan Natal dan Tahun Baru, komoditas ini termasuk salah satu yang mudah naik,” tuturnya.

Apabila turun ke lapangan, akan mendata dan menggetahui stok berdasarkan kebutuhan yang ada. “Kita ada pendataan setiap minggu. Untuk menggetahui jumlah konoditas sembako dan lainnya. Jadi kami pastikan baru minyak goreng yang mengalami kenaikan, sementara komoditi lainnya masih aman dan stabil,” ungkapnya. (*/mts/uno)