TARAKAN – Harga minyak goreng mengalami kenaikan secara nasional, turut dirasakan di Tarakan. Masyarakat berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah untuk meredam gejolak harga minyak goreng. Di Pasar Gusher, kenaikan harga minyak goreng bervariasi tergantung merek. Minyak goreng kemasan plastik ukuran 1 liter misalnya, ada yang dijual Rp 16 ribu. Ada Rp 18 ribu. Sementara sebelumnya hanya berkisar Rp 13-14 ribu.

Harga melambung tinggi dialami minyak goreng kemasan jeriken ukuran 5 liter. Harganya berkisar Rp 85-90 ribu. Padahal sebelumnya hanya Rp 78 ribu per jeriken.

Kenaikan harga minyak goreng sudah terjadi dalam sebulan terakhir. Informasi yang diperoleh, kenaikan dipicu naiknya harga crude palm oil (CPO), ditambah biaya pengiriman menggunakan kontainer. “Makanya naik drastis,” imbuh Wahid, satu di antara sekian banyak pedagang yang menjajakan kebutuhan pokok di Pasar Gusher. Dia pun turut menerima keluhan dari pembeli. Namun, karena kebutuhan, warga tetap membeli.

Sementara itu, Agus Muslim, warga yang tengah berbelanja, berharap pemerintah daerah menyikapi kenaikan harga minyak goreng, agar dapat meringankan beban ekonomi masyarakat, khususnya yang terdampak pandemi Covid-19. “Sebenarnya perlu disikapi sama pemerintah, karena kondisinya lagi pandemi. Banyak juga masyarakat ekonomi terpuruk juga. Kemungkinan juga banyak kegiatan UMKM yang membutuhkan bahan baku minyak goreng,” harapnya.    

Salah satu upaya di antaranya dinas terkait melakukan operasi pasar atau menggelar pasar murah. Sebab, dampaknya dirasakan setidaknya oleh pelaku UMKM.

Betul saja, salah satu pedagang makanan ringan di Pasar Gusher Asriani menuturkan, kenaikan harga minyak goreng berdampak terhadap usahanya, termasuk pendapatan. Melonjaknya harga minyak goreng dalam tiga bulan terakhir, dia membeli kemasan jeriken ukuran 5 liter mencapai Rp 90 ribu. Padahal sebelumnya hanya Rp 60 ribu.  

Dia tidak menaikkan harga makanan yang dijual. Namun, untuk menyiasati agar tetap ada pemasukan, yakni mengurangi dagangannya dan penggunaaan minyak goreng. Jika sebelumnya bisa menghabiskan hingga lima jeriken dalam sehari, kini hanya tiga.

“Banyak pengaruhnya. Sementara bertahan karena langganan-langganan,” ungkapnya. (kpg/mrs/dra/k16)