TARAKAN - Harga minyak goreng dipasaran mulai merangkak naik. Pedagang di pasar Gusher Tarakan mengakui hal itu. Kenaikan harga ini juga telah diketahui Dinas Perdagangan, Koperasi dan Usaha Kecil, Menengah (Disdagkop dan UKM) Kaltara.

“Dari laporan hasil pengawasan bapok (bahan pokok) hampir tiap minggu terjadi kenaikan,” kata Kepala Disdagkop dan UKM Kaltara Hasriani melalui pesan WhatsApp, Jumat (5/11). Kenaikan harga minyak goreng ini, menurut Hasriani, disebabkan beberapa hal. Di antaranya naiknya harga Corude Palm Oil (CPO) dunia, permintaan bahan baku biodiesel dan turunnya hasil panen kelapa sawit secara nasional.

“Ini yang menyebabkan kenaikan harga di pasaran dan efeknya ke konsumen,” tuturnya. Menurutnya, kenaikan harga minyak goreng ini terjadi secara nasional. Karena distributor mengambil dari pabrik, yang secara otomatis berdampak ke pelaku usaha dan konsumen.

Karena terjadi secara nasional, untuk mengatasi persoalan tersebut, Disdagkop dan UKM Kaltara menunggu solusi dari Pemerintah Pusat.

“Kita menunggu juga bagaimana dari Kemendag terhadap kondisi ini. Sampai saat ini juga belum ada surat dari Kemendag,” ungkapnya.

Sementara itu, dosen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Bulungan-Tarakan, Ana Sri Ekaningsih, menilai pemerintah perlu turun tangan agar kenaikan harga ini tidak signifikan. “Harus ada perlakuan pembatasan,” ujarnya kepada awak media, Sabtu (6/11).

Menurutnya, seperti yang pernah terjadi dimana Pemerintah Pusat mengambil langkah intervensi agar harga telur dan daging jangan sampai naik. Ia mengharapkan langkah itu juga dilakukan terhadap harga minyak goreng.

Jika tidak dikendalikan dalam waktu dekat, Ana khawatir akan memicu kenaikan barang-barang lainnya karena mendekati Natal dan dan libur Tahun Baru dan memicu inflasi. “Jika ini tidak dikendalikan dalam waktu dekat maka akan memicu barang-barang lain. Sebentar lagi libur Natal, libur Tahun Baru, cuti bersama,” tuturnya.(mrs/har)