TARAKAN – Unit Reskrim Polsek Tarakan Barat mengungkap kasus pencurian, dengan barang bukti berupa handphone dan laptop, pada Selasa lalu (26/10). Dengan turut diamankan tersangka berinisial AN. 

Tersangka melancarkan aksinya di rumah milik Hikmal, di Jalan Gajah Mada, Gang Arwana RT 23, Kelurahan Karang Anyar Pantai, Tarakan Barat. Saat itu, korban meninggalkan rumah untuk melaksanakan salat Subuh sekira pukul 04.50 Wita, 21 Oktober lalu.

Kapolsek Tarakan Barat Iptu Angestri Budi Reswanto menyatakan, korban ini tidak melihat tersangka di sekitar rumah. Namun, setibanya korban di rumah dan melihat barang-barang berharga berupa laptop warna hitam dan handphone, yang sebelumnya ditaruh di ruang tamu sudah raib. 

Korban pun berusaha mencari barang berharga tersebut dan tersangka di sekitar rumahnya. Namun pencarian korban tidak membuahkan hasil. “Korban kemudian melaporkan aksi pencurian itu ke Polsek Tarakan Barat. Unit Reskrim melakukan koordinasi dengan Polres Tarakan dan jajaran polsek,” terang Angesti, kemarin (5/11). 

Sebelumnya AN juga diduga melakukan tindak pidana pencurian yang diamankan Polsek Tarakan Timur. “Tersangka ini sebenarnya akan dilepaskan, karena tidak terbukti dalam perkara lain. Setelah kami kroscek, identik dengan tersangka yang kami cari. Makanya, kami jemput dan lakukan pendalaman. Tersangka pun mengakui perbuatannya,” ungkapnya.

Modus yang dilakukan AN, mengintai rumah korban sesaat sebelum melaksanakan salat di masjid. Mengetahui rumah korban tidak dikunci, tersangka langsung memasuki rumah korban dan mengambil barang berharga. 

“Tersangka tahu rumah tidak terkunci dan langsung masuk. Jadi korban ini sudah diincar. Baru ada satu korban yang melapor,” tuturnya.

Barang bukti handphone sempat dititipkan tersangka pada temannya. Sementara laptop sudah berhasil digadai senilai Rp 300 ribu. Pengakuan tersangka menjual barang curian untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Korban mengalami kerugian sekitar Rp 7 juta. AN juga merupakan residivis kasus narkotika. “Tersangka kita kenakan padal 363 ayat 1 ke 3 KUHP, dengan ancaman maksimal 7 tahun penjara,” bebernya. (sas/uno)