TARAKAN – Harga minyak goreng mengalami kenaikan secara nasional, termasuk di Tarakan. Masyarakat pun berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah untuk meredam gejolak harga minyak goreng. Dari pantauan awak media ini di Pasar Gusher, Jumat (5/11), kenaikan harga minyak goreng bervariasi tergantung merek. Minyak goreng kemasan plastik ukuran 1 liter misalnya, ada yang dijual Rp 16 ribu. Ada juga Rp 18 ribu. Sedangkan sebelumnya berkisar Rp 13-14 ribu.

Harga melambung tinggi dialami minyak goreng kemasan jeriken ukuran 5 liter. Harganya berkisar RP 85–90 ribu. Padahal sebelumnya hanya Rp 78 ribu per jeriken. Kenaikan harga minyak goreng, sepengetahuan Wahid, sudah terjadi dalam sebulan terakhir. Informasi yang diperolehnya, dipicu naiknya harga CPO (crude palm oil) ditambah biaya pengiriman menggunakan kontainer.

“Makanya naik drastis,” imbuh pedagang kebutuhan pokok di Pasar Gusher, Wahid. Ia mengaku menerima keluhan dari pembeli. Akan tetapi, karena kebutuhan, warga tetap membeli. Sementara itu, warga, Agus Muslim berharap pemerintah daerah menyikapi kenaikan harga minyak goreng ini, agar dapat meringankan beban ekonomi masyarakat yang terdampak pandemi Covid-19.

“Sebenarnya ini perlu disikapi sama pemerintah, karena ini kan pandemi, banyak juga masyarakat ekonomi terpuruk. Kemungkinan banyak kegiatan UMKM yang membutuhkan bahan baku minyak goreng,” harapnya.   

Salah satu upaya di antaranya dinas terkait melakukan operasi pasar atau menggelar pasar murah. Sebab, dampaknya dirasakan oleh pelaku UMKM.

Betul saja, salah satu pedagang gorengan di pasar Gusher, Asriani menyebut, kenaikan harga minyak goreng berdampak pada usahanya, termasuk pendapatannya.

Asriani mengaku harga minyak goreng terus menanjak dalam tiga bulan terakhir. Saat ini ia membeli minyak goreng kemasan jeriken ukuran 5 liter mencapai Rp 90 ribu. Padahal dulunya Rp 60 ribu. 

Di sisi lain, ia tidak menaikkan harga gorengannya. Namun, menyiasati dengan mengurangi dagangannya dan penggunaaan minyak goreng. Jika sebelumnya ia bisa menghabiskan hingga 5 jeriken dalam sehari, kini hanya 3 jeriken.

“Banyak pengaruhnya, baru gorengannya begitu saja harganya. Cuma bertahan saja karena langganan-langganan,” keluhnya.  (mrs/luc/k16)