NUNUKAN – Tongkat komando Komandan Pangkalan TNI Angkatan Laut (Danlanal) Nunukan telah berganti. Dari Letkol Laut (P) Nonot Eko Febrianto SE CTMP digantikan Letkol Laut (P) Arief Kurniawan. Proses serah terima jabatan (Sertijab) dilakukan Danlantamal XIII Tarakan Laksamana Pertama Edi Krisnamurti di Lapangan Dwikora Lanal Nunukan, Kamis (4/11).

Dikatakan Arief, akan melanjutkan tugas dan kehormatan Lanal Nunukan untuk menjaga perbatasan teritorial NKRI. “Lanal Nunukan juga akan selalu siaga dan membantu operasi pengamanan teritorial sejumlah Kapal Republik Indonesia (KRI), yang bertugas menjaga perbatasan RI–Malaysia di Ambalat,” terangnya yang ditemui usai proses Sertijab.

Lanal Nunukan memandang penting insiden di perbatasan Sei Ular, Kecamatan Seimanggaris. Di lokasi tersebut seringkali terjadi penangkapan WNI oleh aparat Malaysia, karena dekatnya jarak batas negara.

Kasus penangkapan terakhir, terjadi pada Rabu (10/2). Ada 8 WNI asal Nunukan, diamankan Pasukan Gerakan Am (PGA) Malaysia. Jalur perairan Sei Ular, terbagi dua. Masing-masing setengah milik Malaysia dan Indonesia.

Masyarakat Nunukan, sudah menjadikan Sei Ular sebagai sumber mata pencaharian. Para nelayan menjala ikan di sungai tersebut, termasuk melayani transportasi penumpang dan barang. Namun, hingga saat ini, tidak banyak masyarakat yang mengetahui adanya garis batas negara di daerah tersebut. 

Saat air sungai surut, geografis dan kontur Sei Ular, mengarah Malaysia. Otomatis pemilik speedboat/kapal, refleks ikut arus yang dalam. Masyarakat setempat tidak menyadari, jalur tersebut sudah masuk Malaysia, terutama saat malam hari.

Pemerintah daerah pun sudah mewajibkan para motoris speedboat untuk melengkapi dokumen dan memiliki handphone Android yang dilengkapi GPS (Global Positioning System). Bahkan, sudah ada peringatan agar tidak ada pelayaran pada malam hari. Terkecuali dalam keadaan darurat dan tetap harus mendapat pengawalan aparat keamanan.

Menurut Arief, permasalahan batas negara merupakan masalah yang komplek dan butuh penyelesaian dari hulu ke hilir. “Saya berencana meminta arahan pimpinan. Kalau bisa, kita akan melaksanakan pengawasan ketat di sana (Sei Ular). Harapan saya ada pos pengamat, kita tugaskan personel dan menurunkan alutsista.,” jelasnya.

Sementara itu, Danlanal lama Letkol Laut (P) Nonot Eko Febrianto mengatakan, Kabupaten Nunukan memiliki arti lebih baginya. Selama setahun bertugas, banyak kesan dan dinamika cukup menantang. “Nunukan cukup spesial karena memiliki perbatasan laut dan darat. Kalau wilayah lain hanya punya batas laut saja atau darat saja, Nunukan punya keduanya,” tuturnya.

Wilayah pesisir dan area perairan dangkal, kerap menjadi jalur bagi ilegal narkoba. “Para pelaku menggunakan speedboat kecil dan tak terjangkau KRI kita. Panjangnya garis pantai menjadi kendala, karena penjagaan di areal ini belum bisa maksimal,” katanya.

Selanjutnya, Nonot akan menjalankan tugas di Komando Armada III (Koarmada III). Salah satu Komando Utama TNI Angkatan Laut dan membawahi wilayah laut Indonesia bagian Timur. Yang bermarkas di Jalan Yos Sudarso Katapop, Distrik Salawati, Kabupaten Sorong, Papua Barat. (*/lik/*/viq/uno)