TARAKAN — Awal tahun depan akan menjadi waktu yang menentukan nasib sejumlah Perusahaan Umum Daerah (Perumda) yang dibentuk Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan.

Seperti diketahui, tahun lalu, Pemkot Tarakan membentuk lima perumda. Di antaranya Perumda Tirta Alam Tarakan yang dipimpin Iwan Setiawan, Perumda Tarakan Aneka Usaha dipimpin Mappa Panglima Banding dan Perumda Tarakan Agrobisnis Mandiri yang dipimpin Ruslan.

Selain itu, Thamrin dipercaya menjadi Direktur Perumda Tarakan Energi Mandiri, serta Riskiyanto sebagai Direktur Perumda Tarakan Media Telekomunikasi.

Pembentukan kelima perumda tersebut juga disertai tugas dan tanggung jawab. Mulai dari perbaikan manajemen hingga pengelolaan keuangan yang sehat. Bahkan, Pemkot Tarakan juga memberikan target pendapatan yang harus direalisasikan dalam kurun waktu yang sudah ditentukan. 

Jika pada tahun pertama tidak mencapai target, Pemkot Tarakan masih memberikan kesempatan bagi direktur untuk memimpin perumda di tahun berikutnya. Kesempatan itupun sudah diberikan.

Kini di akhir tahun nanti, Pemkot Tarakan akan mengevaluasi perumda, sejauh mana capaian kinerja mereka dalam merealisasikan target yang dibebankan Pemkot Tarakan.

“Kan ada target mereka per tahun, berapa dia punya pendapatan, nanti kita evaluasi di Januari. Kan Desember tutup tahun. Biasanya sekalian untuk melihat rencana bisnis tahun depan. Dilihatlah bagimana dengan pendapatan mereka yang selama satu tahu,” ujar Wali Kota Tarakan, Khairul kepada awak media, Sabtu (23/10).

Sepengetahuan Khairul, kelima perumda tersebut masih berjalan merealisasikan rencana bisnisnya. Akan tetapi, ia belum mengetahui pendapatan yang dihasilkan karena belum menerima laporan kinerja selama setahun.

Mantan Sekretaris Daerah (Sekda) Tarakan ini memperkirakan capaian kelima perumda tersebut baru bisa diketahui pada Desember nanti. Namun, dari data yang diperoleh awak media ini, kemungkinan Perumda Tirta Alam Tarakan dalam zona aman.

Informasi yang diperoleh dari Direktur Perumda Tirta Alam Tarakan Iwan Setiawan, perusahaan yang dipimpinnya ini mampu membukukan keuntungan di semester pertama sebesar Rp 13 miliar. Sedangkan semester berikutnya masih dalam perhitungan.

Khairul sudah menyiapkan opsi kebijakan yang akan dilakukan apabila ada perumda yang tidak mampu merealisasikan target yang diberikan.

“Ya kan ada ada beberapa opsi-opsi. Mungkin apakah pergantian manajemen, atau perbaikan kinerja dulu. Dicoba juga tetap tidak bisa, mau tidak mau marger. Apakah mungkin memang jenis usahanya yang tidak provitable, ya mau tidak mau dimarger,” ungkapnya. (mrs/har)