TARAKAN- Selama Menteri Dalam Negeri (Mendagri) memberlakukan masa PPKM Level 4, penjualan di UMKM Center Tarakan mengalami penurunan drastis hingga 80 persen. 

Hal ini diakibatkan berkurangnya pelanggan yang datang. Karena ketatnya persyaratan masuk ke Tarakan. Salah seorang pegawai UMKM Center, Astri mengakui kebanyakan para pembeli merupakan tamu-tamu dari luar yang berkunjung ke Tarakan. Baik itu saat kegiatan pemerintahan maupun kegiatan lain yang mengundang orang banyak.

“Dari awal pandemi Covid-19 omzet sudah menurun. Tapi, paling terasa waktu PPKM Level 4 diterapkan. Rata-rata produk yang dijual ini hasil UMKM di Tarakan. Kalau yang dibeli kebanyakan souvenir sama produk makanan,” katanya, Jumat (15/10).

Sama halnya dengan usaha batik di Tarakan yang masih berusaha tetap bertahan sejak awal masa pandemi. Mesti, penurunan penjualan batik bisa mencapai 50 persen. Pelaku usaha batik di Tarakan Anto Gondrong mengatakan, keterbatasan yang diterapkan pemerintah membatasi penjualan. Ditambah lagi para pembeli yang datang ke Tarakan menurun dibandingkan sebelum masa pandemi.

“Kalau penjualan online kami masih melayani yang keluar Tarakan. Tapi, untuk dalam Tarakan ini, paling hanya pemesanan dari instansi pemerintahan. Misalnya seragam kantor Pemprov Kaltara dan Pemkot Tarakan,” ungkapnya. 

Adanya pemesanan dari instansi pemerintahan ini yang membuat pegawainya masih tetap bekerja dan tidak diistirahatkan. Mesti penghasilan menurun, karyawan tetap bekerja. Menurut Anto, tamu yang berkunjung ke Tarakan biasanya menjadi pembeli paling banyak. Ketatnya persyaratan masuk ke Tarakan membuat tamu yang datang sangat berkurang.

“Biasanya, kami satu tahun bisa 4 sampai 5 kali pameran keluar Tarakan. Seperti ke Jawa dan keluar negeri. Tapi, sampai saat ini selama dua tahun tidak ada sama sekali pameran. Padahal, kalau di pameran omzet penjualan sangat signifikan untuk penghasilan batik Asia ini,” bebernya.

Anto berharap pemerintah bisa memberikan perhatian lebih dengan meningkatkan pemesanan produk. Agar bisa menghidupkan produksi batik lokal Tarakan. mengingat, gaji para pekerjanya bergantung dengan pendapatan dari penjualan batik. 

Hal senada diungkapkan pelaku usaha batik Tarakan lainnya Sony Lolong. Imbas pandemi Covid-19 ini sangat terasa. Meskipun batik bukan termasuk kebutuhan pokok yang bisa dibeli setiap waktu. Sehingga, masyarakat lebih mengutamakan pembelian sembako daripada batik. 

“Sejak Pemkot Tarakan dan Pemprov Kaltara mengeluarkan kebijakan kewajiban menggunakan batik lokal sebagai seragam. Pendapatan batik mulai meningkat. Imbasnya terasa, peningkatan penjualan kami naik signifikan sekali,” tuturnya. 

Di awal tahun ini saja, sudah ada banyak instansi yang menemuinya, untuk memesan produk batik lokal miliknya. “Memang bergantung sekali dengan pemerintah. Tapi, semoga ada kebijakan untuk mewajibkan batik lokal di instansi vertikal, seperti perbankan dan aparat. Semoga ada regulasi dengan peraturan gubernur untuk semua ASN di Kaltara menggunakan batik Kaltara,” harapnya. (sas/uno)