TARAKAN – Komisi Daerah (Komda) Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) Kaltara belum menerima aduan, terkait gejala berat untuk pemberian vaksin jenis Sinovac. Berbeda dengan vaksin jenis Pfizer, aduan terbanyak penerima vaksin mengeluh sesak nafas.

Hal itupun diakui Ketua Komda KIPI Kaltara dr Franky Sientoro, setelah mendapatkan laporan KIPI dengan keluhan sesak, saat petugas medis lakukan observasi. Dari pelaksanaan vaksinasi di salah satu Puskesmas di Tarakan, Rabu lalu (13/10), ada dua laporan sesak nafas dan satu laporan dari vaksinasi di RSUD Tarakan. Penerima vaksin dengan KIPI ini langsung diberikan oksigen, dengan perawatan di UGD RSUD Tarakan. 

“Setelah di observasi semua, ternyata di UGD selama dua jam sudah tenang dan dipulangkan. Vaksin Pfizer ini paling banyak KIPI ditemui seperti kecemasan, karena faktor psikis. Mungkin karena pemberian vaksin pertama,” terang dr Franky, Kamis (14/10). 

Serbuan vaksin di Tarakan hampir dilakukan semua instansi yang memiliki fasilitas kesehatan (Faskes), mulai dari TNI/Polri hingga rumah sakit. Dalam sehari, bisa 6-7 faskes yang melaksanakan vaksinasi dengan satu faskes sebanyak seribu vaksin. Dari semua faskes yang melaksanakan vaksinasi ini, untuk yang menggunakan vaksin Pfizer ada 3 laporan KIPI yang diterima. 

Namun, KIPI masih bisa disebut ringan. Dengan gejala sesak atau cemas dan observasi dua jam selanjutnya diizinkan pulang. Di RSUD Tarakan, vaksin menggunakan jenis Pfizer, sedangkan pelaksanaan vaksinasi di wilayah terjauh, dengan menempuh perjalanan darat atau menyeberang laut, menggunakan vaksin Sinovac. 

“Pengalaman KIPI di Tarakan sudah banyak untuk Sinovac. Jadi, selama ini tak ada gejala berat. Sama dengan vaksin Pfizer, gejala biasanya demam dan relatif lebih ringan dari KIPI vaksin Moderna,” jelasnya. 

Franky mengingatkan, penerima vaksin apabila ada yang merasakan sesak nafas usai divaksin. Maka segera ke RSUD Tarakan, agar bisa dilakukan observasi. Sama halnya apabila penerima vaksin dari faskes lain. Jika merasakan KIPI bisa melaporkan ke petugas kesehatan di faskes tersebut.

“Biasanya akan dibawa ke RSUD Tarakan. KIPI karena vaksin, biasanya terjadi di waktu jam pertama. Dirasakan sehari atau dua hari setelah vaksin, sebenarnya bias. Tapi itu bukan KIPI,” tutupnya. (sas/uno)