TARAKAN – Ketua Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Kalimantan Utara (Kaltara) Rustan menilai, yang dialami Sanusi sebagai contoh kecil kehidupan nelayan tradisional di Tarakan. 

Dengan hidup di bawah garis kemiskinan yang tinggal di dalam kapal dan penghasilan jauh dari kata cukup. Membuat Sanusi hanya bisa berharap uluran tangan masyarakat. Seperti yang dialaminya belum lama ini, kapalnya pecah dihantam gelombang air laut yang cukup tinggi pada Rabu pekan lalu (7/10).

Rustan berharap pemerintah dapat memperhatikan kehidupan nelayan tradisional melalui pemberdayaan ekonomi nelayan. “Khususnya nelayan-nelayan Tarakan itu masih banyak yang hidup di bawah garis kemiskinan. Kepada pemerintah kota agar memperhatikan pemberdayaan ekonomi nelayan,” harap Rustan, Minggu lalu (10/10).

Pembangunan yang dilakukan pemerintah kota sudah terlihat. Namun yang masih kurang perhatian terhadap pemberdayaan ekonomi maupun perlindungan sosial nelayan. Rustan mencontohkan, salah satu perhatian yang diharapkan dari pemerintah dengan memberikan kemudahan kepada nelayan. Untuk mendapatkan modal usaha yang bisa dimanfaatkan bagi peremajaan alat tangkap, memperbaiki armada ataupun membeli mesin.  

“Pemerintah perlu memberikan kemudahan kepada nelayan, untuk mengakses permodalan. Jangan dipersulit. Bila perlu, pemerintah kota menyiapkan modal lalu memberikan kepada nelayan,” tuturnya.   

Menurut Rustan, modal yang dibutuhkan nelayan cukup besar. Harga alat tangkap nelayan kecil di bawah 5 GT sekira Rp 30 juta. Alat tangkap yang digunakan tergantung dari jenis ikan yang ditangkap. Seperti pukat gillnet millenium untuk menangkap ikan Tenggiri dan Senangin, pukat Kurau dan pukat gondrong. Harganya pun berbeda.

Harga mesin berkekuatan 15 PK cukup mahal, ditafsir berkisar Rp 28 juta. Sedangkan untuk harga perahu antara Rp 22 juta – Rp 23 juta. Sehingga jika ditotal nelayan butuh modal Rp 60 juta – Rp 70 juta. 

Tidak hanya pemberdayaan ekonomi, Rustan juga berharap pemerintah kota memperhatikan perlindungan sosial nelayan. Dengan memberikan subsidi untuk ikut dalam peserta perlindungan jaminan sosial.

Menanggapi hal itu, Wali Kota Tarakan Khairul mengaku bahwa Pemkot Tarakan telah menyiapkan bantuan untuk nelayan yang dianggarkan setiap tahun. 

“Mereka (nelayan) kita bantu alat tangkap, navigasi seperti GPS, hampir setiap tahun dianggarkan,” tuturnya. 

Menurut Khairul, penyalurannya dilakukan secara bergilir karena keterbatasan anggaran Pemkot Tarakan. Bagi nelayan yang sudah mendapatkan bantuan tahun ini. Maka tahun depan sudah tidak diberikan bantuan lagi. Selain bantuan peralatan, Pemkot Tarakan sedang mengupayakan jaminan perlindungan sosial untuk nelayan.

“Pernah ada dulu, tapi perlindungan sosial dari Pemerintah Pusat. Saat ini dihentikan lagi,” ujarnya. (mrs/uno)