KABUPATEN Nunukan kini sudah memiliki Laboratorium Polymerace Chain Reaction (PCR) untuk pemeriksaan sample swab bagi pengidap Covid-19. 

Gedung berfasilitas standar nasional dengan keberadaan ruang bertekanan positif dan negatif ini, akan menjadi sentral. Dalam pencegahan dan deteksi dini bagi masuknya virus Covid-19 varian baru. Berpotensi dibawa oleh eks Pekerja Migran Indonesia (PMI), yang dideportasi oleh Malaysia. 

Direktur RSUD Nunukan dr Dulman mengatakan, adanya Laboratorium PCR, Nunukan tidak perlu lagi mengkhawatirkan potensi penularan eks PMI/Deportan dari Malaysia.

“Selama ini deportasi PMI rutin dikirim via Pelabuhan Tunon Taka Nunukan, diperiksa PCR dan samplenya harus menunggu cukup lama dari BBLK Surabaya. Selama itu potensi penularan tentu ada dan menjadi kekhawatiran,” jelas Dulman, kemarin (11/10). 

Dengan terbangunnya Laboratorium PCR, maka bisa langsung tahu hasil pemeriksaan pasien. Bahkan tidak perlu lagi menunggu lama, seperti saat sampel dikirim ke BBLK Surabaya. 

Gedung yang dibangun dengan anggaran Dana Alokasi Khusus (DAK) sekitar Rp 1,7 miliar, berlokasi di Jalan Angkasa Nunukan Timur. Bahkan, Nunukan masih memiliki PCR Mobile dengan kemampuan yang sama. Termasuk PCR portable dengan kemampuan 6 sample sekali running. RSUD Nunukan sudah menyiapkan tiga dokter spesialis patologi untuk pemeriksaan PCR. 

“Kita berharap dengan peralatan dan SDM yang ada, beranda negeri ini mampu menangkal masuknya varian Lambda yang sudah menyebar di Malaysia,” lanjut Dulman. 

Seluruh PMI yang akan dideportasi dari Malaysia melalui Nunukan, setiap personnya dipastikan wajib menjalani pemeriksaan PCR tanpa kecuali. “Ada sekitar 1.400 PMI yang akan dideportasi dalam waktu dekat. Kita akan melihat dulu mekanisme pemeriksaannya. Kita tak ingin kebobolan dengan merebaknya virus Lambda di Malaysia,” ungkap Dulman. (*/lik/*/viq/uno)