TARAKAN - Gara-gara saling ejek via chat di Instagram, belasan remaja terlibat tawuran di Jalan Gajah Mada, Kelurahan Karang Anyar Pantai sekira pukul 01.00 Wita, Minggu (10/10). Aksi tersebut membuat masyarakat yang tinggal di depan Kawasan Konservasi Mangrove Bekantan (KKMB) resag dan melaporkan tawuran tersebut ke Polisi.

Kapolsek Tarakan Barat, Iptu Angestri Budi Reswanto menjelaskan, awalnya salah seorang anak berinisial RL mengejek orangtua korban berinsial IB. Tidak terima orangtuanya diejek, korban kemudian menantang RL untuk berduel. "Dari rangkaian ini, korban yang sebelumnya teman kemudian mengumpulkan teman lainnya untuk berkelahi," ujarnya, Senin (11/10).

Perkelahian yang tidak imbang, korban membawa 3 orang temannya, AI, AJ dan SB sedangkan pelaku membawa belasan orang temannnya. Selanjutnya, pada minggu siang, para pelaku yang diduga melakukan pengeroyokan berhasil diamankan dan digiring ke Polsek Tarakan Barat untuk dimintai keterangan.

Ada sembilan orang remaja diamankan, AD, RD, RM, ND, AS, LF, SL, MA dan RL yang diduga ikut dalam aksi pengeroyokan. Setelah didata, semua pelaku rata-rata masih berstatus pelajar di kelas VIII dan IX salah satu SMP di Tarakan. Alamat korban dan pelaku, para remaja ini juga bervariasi, namun rata-rata tinggal di Kelurahan Kampung Empat untuk korban dan pelaku tinggal di Kelurahan Sebengkok dan Jalan Aki Balak, Kelurahan Juata Permai dan Kelurahan Selumit Pantai.

"Kami kumpulkan para anak-anak ini bersama orangtua dan walinya. Kami coba mediasi untuk diselesaikan secara kekeluargaan. Sepakat biaya pengobatan ditanggung secara gotong royong dari masing-masing keluarga pelaku dan itu secara sadar tanpa paksaan," tegasnya.

Dari para remaja ini juga ada yang diketahui membawa senjata tajam (sajam) saat tawuran. Pihaknya sudah menerima laporan dari keluarga korban, dari status media sosial (medsos) ada yang mengupdate status berisi foto dan video pasca tawuran. Penggunaan sajam jenis badik ini yang paling dikhawatirkan.

Angestri menjelaskan, awalnya para pelaku dan korban ini saling kenal. Hal yang menjadi cerita dalam intrik permasalahan, berasal dari mantan pacar salah satu keluarga korban yang sudah putus. Antara mantan pacar kakak korban, berteman dengan korban. Akhirnya saling ejek dan menyebut nama orangtua dari korban. "Sebenarnya masalah ini sepele akhirnya jadi besar. Kami kemudian meredam permasalahan agar tidak terjadi konflik sara," ungkapnya.

Para pelaku untuk sementara diserahkan kembali kepada orangtua, karena masih dibawah umur. Nantinya, Polsek akan memanggil pihak sekolah untuk memberikan pengarahan kepada para pelaku.

Selain itu ia juga meminta agar para orangtua tidak dengan mudah meminjamkan kendaraan roda dua kepada anak yang masih berusia dibawah umur dan tidak memiliki SIM. Kendaraan roda dia ini bisa menjadi alat transportasi para anak-anak remaja untuk saling menjemput temannya dan melakukan tawuran.

"Kami imbau kepada para orangtua masing-masing, lebih mengawasi dan intens mengontrol putra putrinya di jam malam. Apalagi di waktu malam minggu, hari libur dimana posisi anak-anak ini. Terlebih lagi sampai memberikan kendaraan roda dua," harapnya.(sas)