TANA TIDUNG–Ciri khas adat istiadat setiap suku di Kalimantan Utara (Kaltara) merupakan kelebihan dan potensi yang mesti dikembangkan.

Hal tersebut disampaikan Penggiat Seni Tidung Oestman Najrid Maulana. Dia menjelsakan, perbedaan ciri khas suku Tidung setiap daerah yang tersebar di Kaltara, salah satunya ada dialektika antar-daerah, baik Tidung di Tana Tidung, Tarakan, Malinau, maupun Bulungan.

Perbedaan bukan persoalan yang menjdai perdebatan panjang. Namun, dijadikan sebagai kelebihan untuk tetap bersatu. "Justru memperkuat, mempersatu, membuat tidung menjadi limpung di Bumi Benuanta," ungkap Najrid, Rabu (7/7).

Owner Pagun Tengara Artploration itu menyampaikan, sejauh ini dialek Tidung Tarakan atau biasa disebut Tengara dijadikan sebagai bahasa nasionalnya suku Tidung. "Kenapa begitu, adopsi bahasa yang ada di sana itu bisa diterima semua masyarakat tradisional suku Tidung di mana saja berada," jelasnya.

Selain itu, suku Tidung di daerah-daerah pedalaman atau biasa disebut Daud, memiliki dialek yang sangat mantap. Sehingga cukup sulit diterima. "Seperti di Sesayap KTT, menyebut mekao (jalan), di Tarakan sebutnya makao, di Tarakan sebut niyo, di sini (Sesayap) sebutnya nyo," ungkapnya terkait perbedaan dialek.

Pria jebolan Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta itu berharap, dengan perbedaan tidak menyurutkan semangat masyarakat Tidung, terutama generasi muda untuk lebih mengenal budayanya sendiri. "Jangan sampai budaya tergilas zaman. Masyarakat Tidung harusnya menjadi bangga karena semakin mengenal identitasnya," beber dia.

Ajang pertunjukan terkait budaya, perlu sering diadakan. Hal itu guna menguatkan dan memahami lebih dalam terkait dengan budaya. Sehingga, di mana pun berdada, anak-anak Tidung diharapkan tetap menjunjung tinggi budaya yang menjadi warisan leluhur.

"Tanamkan penggetahuan akan budaya sejak dini, di mana saja berada, budaya itu sudah melekat dalam diri," tutupnya. (kpg/mts/dra/k8)