TANJUNG SELOR – Penyaluran air bersih kepada masyarakat dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Danum Benuanta Bulungan, sementara waktu tidak merata. Dikarenakan debit air Sungai Buaya mengalami pendangkalan. 

Warga yang berada di Jalan Kampung Arab, MT Haryono dan Diponegoro, merasakan imbas dari terhambatnya penyaluran air bersih tersebut. Hal itu, menurut Direktur PDAM Danum Benuanta Bulungan Winardi, karena kondisi pendangkalan sehingg Instalasi Penyaluran Air (IPA) Sungai Buaya di Tanjung Rumbia tidak bisa maksimal memberikan pelayanan. 

“Kami tak menghentikan penyaluran air secara total. Hanya saja karena keterbatasan, akibat air dangkal di Sungai Buaya. Jadi tak bisa terbagi rata sampai ke Kampung Arab, Jalan MT Haryono dan Diponegoro. Saat air kita pompa untuk disalurkan, wilayah dekat-dekat yang lebih dulu tersalurkan,” terang Winardi, kemarin (7/6). 

Sungai Buaya merupakan sumber air baku untuk diserap dan diolah. Agar bisa melayani sebagian besar masyarakat di ibukota Kaltara ini. Pendangkalan air Sungai Buaya tahun ini menjadi yang terparah. Kondisi air surut sering terjadi, namun tidak sampai dangkal seperti saat ini. 

“Kita tak bisa prediksi (pendangkalan) ini terjadi sampai kapan. Karena ada cabang aliran air dari Sungai Selor ke Sungai Buaya. Deras tidaknya aliran air dari Sungai Selor dan kondisi air pasang atau surut menjadi penentu utama pasokan air IPA Sungai Buaya,” tuturnya. 

Pelayanan air bersih di wilayah Tanjung Selor, masih teratasi karena bersumber dari 2 IPA. IPA di Sabanar menggunakan sumber air dari aliran sungai yang lain. Sehingga warga Sabanar, sebagian Sengkawit hingga Jelarai tidak merasakan air tak mengalir.

Untuk mengatasi kekurangan air bersih bagi warga yang terdampak penyaluran. Maka PDAM alternatif mengantarkan air bersih ke rumah-rumah warga, khususnya yang terkena dampak. Pengantaran air bersih pun akan disesuaikan aduan atau laporan masyarakat. Pasalnya, tidak memungkinkan PDAM mengantar air bersih ke rumah warga tanpa adanya laporan. (*/nnf/uno)