TARAKAN– Satu korban tenggelam, Rahul (20), berhasil ditemukan Tim SAR gabungan, di sekitar perairan Marungau, Pulau Bunyu, Kabupaten Bulungan, sekira pukul 08.25 Wita, Kamis (18/2). 

Korban ditemukan naik delta atau dalam kondisi meninggal dunia dengan posisi terlentang. Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Tarakan, Amiruddin menyebutkan Rahul ditemukan tim SAR gabungan di jarak di posisi 03 34 51.8 N 117 47 26.1 E dengan radius mengarah ke Pulau Bunyu. Dari lokasi kejadian, di tugu tempat jatuhnya korban berjarak 4,84 Nautical Mile (NM).

“Setelah ditemukan, dievakuasi oleh tim SAR gabungan. Selanjutnya, korban langsung dibawa ke posko di salah satu dermaga di Kelurahan Juata Laut sekira pukul 09.40 Wita. Setelah sampai langsung kami bawa ke RSUD Tarakan,” jelas Amiruddin.

Selanjutnya, korban Rahul divisum dan diserahkan kepada pihak keluarga. Operasi SAR pencarian korban tenggelam ini masih tetap dilanjutkan. Mengingat, untuk korban Fahiz (5) masih belum ditemukan hingga saat ini. 

Jumlah personel yang diturunkan saat pencarian, terdiri dari SAR Tarakan (6 orang) dan personel Polda (6 orang). Bahkan, masyarakat, keluarga korban dan nelayan turut membantu pencarian tersebut. 

“Kendala kami di lapangan, hingga pencarian di hari keempat baru menemukan korban. Karena arus air yang sangat keras. Sehingga, tidak terlalu jernih. Jadi, menyulitkan tim pencari untuk melakukan penyelaman atau menggunakan langkah yang lain,” ungkapnya.

Dia juga mengimbau, masyarakat untuk waspada saat melakukan aktivitas atau rutinitas di atas permukaan air. Tidak hanya pengguna transportasi, nelayan maupun yang beraktivitas di tambak atau tugu. “Sebelum berangkat laut, lengkapi diri dengan alat pelindung diri. Seperti life jacket,” pesannya. 

Amiruddin mengaku, sejumlah masyarakat yang melakukan aktivitas di laut kurang sadar akan penggunaan life jacket. Hal ini jika terjadi kecelakaan, jatuh di air dan tenggelam bisa memudahkan Tim SAR untuk melakukan pencarian. 

“Jadi, waktu melakukan pencarian kami tidak membutuhkan waktu yang begitu lama,” imbuhnya. Saat ini, anomali cuaca di Kaltara masih terdampak anomali cuaca dari Filipina atau La Nina. Berdasarkan data dari BMKG cuaca seperti ini akan selesai di bulan Maret. (sas/uno)