TANJUNG SELOR – Berada di daerah yang berbatasan langsung dengan negara lain, Kaltara rentan terhadap perang. Namun bukan perang terbuka atau perang konvensional, melainkan perang proksi (proxy war). Perang proksi adalah perang antara dua pihak yang tidak saling berhadapan, namun menggunakan pihak ketiga untuk saling mengalahkan.

Koordinator Wilayah Indonesia Tengah, Kementerian Pertahanan RI, Brigjen TNI Djoko Subandrio, mengatakan warga Indonesia, termasuk di Kaltara, perlu waspada dengan adanya perang proksi ini.

“Kaltara termasuk rentan. Ini karena posisinya berada di perbatasan. Kaltara sangat dekat dengan negara tetangga dan strategis,” ujar Djoko usai mengisi Seminar Nasional Kebijakan Pertahanan Negara di Daerah, belum lama ini.

Hal utama yang dilakukan untuk menangkal bahaya perang proksi, kata jendral bintang satu ini, adalah tetap menjaga persatuan. Masyarakat Kaltara harus bersatu menangkal semua agenda-agenda yang akan menghancurkan bangsa Indonesia.

Perang proksi, jelasnya, tidak bisa terdeteksi. Sulit diidentifikasi. Siapa kawan dan siapa lawan tidak diketahui. Menghadapinya perlu keterlibatan semua pihak, butuh persatuan kuat kebangsaan Indonesia.

Menurutnya, indikasi adanya perang proksi, di antaranya gerakan separatis, demonstrasi massa dan bentrok antarkelompok. Termasuk melalui peredaran narkoba, serangan cyber hingga mempengaruhi generasi muda.

“Butuh kesadaran warga. Kita yakin punya kekuatan untuk menghadapi ancaman-ancaman terhadap bangsa kita,” lanjutnya.

Ditegaskan, solusi menangkal perang proksi adalah menggunakan strategi pertahanan negara Indonesia, memakai semesta yang melibatkan seluruh warga negara dan wilayah.

“Kita persiapkan secara dini oleh pemerintah dengan diselenggarakan secara total, terpadu, terarah, dan berlanjut demi tegaknya kedaulatan negara, keutuhan wilayah dan keselamatan segenap bangsa,” katanya.

Sementara, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kaltara Sanusi, menambahkan bahwa pemerintah daerah dituntut terlibat dalam pencegahan ancaman perang proksi. Salah satunya, dengan memantau perkembangan yang terjadi di daerah dan berupaya meningkatkan kesejahteraan warganya.

“Kewaspadaan perlu ditingkatkan. Dan yang paling penting, kesejahteraan harus diperhatikan, utamanya terhadap masyarakat di perbatasan. Jangan hanya yang di kota sana yang diperhatikan. Tapi Alhamdulillah, sekarang sudah mulai diperhatikan, tidak seperti di dulu. Banyak program-program pembangunan dari pusat diarahkan ke perbatasan, termasuk di Kaltara ini,” katanya singkat. (*/nug/udi)